Panduan Sukses Berbincang
Komunikasi dengan orang lain, bukankah itu hal yang paling nyata dalam hidup? Ya, karena itu, gagal berkomunikasi rasanya bagai mimpi buruk bagi siapapun. Hanya, sebagaimana setiap aspek dalam hidup ini selalu menyimpan potensi masalahnya, masalah kegagalan komunikasi pun tak jarang mendera kebanyakan kita. Termasuk dalam aktivitas percakapan sebagai bentuk komunikasi interpersonal baik itu di lingkungan bisnis, pertemanan hingga keluarga.
Tentu, yang dibutuhkan kemudian adalah memahami bagaimana hendaknya kesuksesan setiap aktivitas pembicaraan itu kita bangun. Salah satu yang penting diperhatikan sejak awal rupanya pada bagaimana membangun rasa percaya diri. Tiga prinsip di balik terlihat, berbuat, dan bersikap percaya diri, ditawarkan buku ini dengan sangat jelas lagi mudah dipahami serta praktis untuk langsung dicoba.
Kita mungkin pernah berbuat salah. Kita pernah menyelesaikan pekerjaan yang kurang sempurna. Kita pernah salah ucap beberapa kali. Ya, itu wajar adanya. Lebih baik lupakan kesalahan itu (anggap saja kita sudah sadar dan tidak akan mengulanginya). Karena, hal terburuk yang bisa kita lakukan adalah mengingat kembali kesalahan dan kekakuan yang pernah kita lakukan. Memasuki percakapan baru dengan perasaan semacam itu sama dengan menembak kaki kita sendiri. Persepsi bahwa "orang asing itu ialah teman yang belum kita kenal" lumayan bermanfaat untuk disetujui.
Dugaan bahwa buku ini akan menjemukan, menggurui dan tidak memandang dengan adil terhadap berbagai kendala suksesnya percakapan, sukar dibuktikan pada sebagian besar isinya. Malah secara mengalir pembaca diajak melihat dan dipandu secara realistis bahwa dalam posisi mana saja (ketika memuji atau dipuji, ingin menyambung pembicaraan atau menghentikannya, dan seterusnya), pada tema yang tepat dan dengan siapa saja, kita sama-sama berpeluang besar untuk sukses berbicara. Tak jarang, panduan yang dipaparkan membuat senyum tersimpul dengan sendirinya.
Meskipun begitu, kekhasan budaya—paling tidak, unsur bahasa—yang dibawa buku ini menjadikan setiap contoh percakapan yang memang memudahkan itu tidak harus dilahap begitu saja oleh pembaca. Dalam konteks inipun, ternyata turut diungkap beberapa kesalahan penggunaan kosakata dalam bahasa Inggris sendiri seperti: basically, badly, dan hopefully.
Buku ke-20 karya Rosalie Maggio—sang penulis buku best-seller How to Say It—ini juga dihiasi oleh banyak kutipan mencerahkan dari berbagai narasumber. Rosalie mengaku, demi menemukan kutipan-kutipan untuk beberapa bukunya, Ia telah membaca lebih dari 8.000 buku (www.rosaliemaggio.com). Karenanya, jika ada sebagian kecil buku ini yang dianggap layak untuk dilewatkan—saya yakin ada—jangan sampai kutipan itu yang menjadi korban.
Pada akhirnya, kita mungkin bisa memilih kata-kata kita layaknya seorang seniman, dan memolesnya dengan seni, tetapi kata yang berpengaruh dan mengarahkan serta melekat adalah kata yang berasal dari hati.
