Melimpahnya Nilai Moderasi Islam
Islam akan menjauhkan umatnya dari ekstrimisme. Itulah nampaknya pesan nyata dari buku karya bersama sembilan cendekiawan muslim yang tergabung dalam Ikadi (Ikatan Da’i Indonesia) ini. Alasannya tegas, karena sifat moderasi (ummatan wasathan) itulah yang disebutkan sebagai karakter umat Islam, langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an. Bahkan disebutkan bahwa jalan tengah atau moderasi itu sedemikian berlimpah dalam Al-Qur’an dan hadits.
Di tengah kecurigaan global yang seakan menumbuhsuburkan Islamophobia, pemahaman tentang Islam secara parsial justru berpeluang menambah runyam persoalan. Dan itu mendera bukan hanya kaum beragama lain, tapi terkadang umat Islam itu sendiri. Selain konsisten terhadap kemenyeluruhan Islam sebagai sistem kehidupan (seperti cukup tergambar dalam pembagian babnya), buku ini menyajikan usaha elaborasi yang sungguh-sungguh atas nilai-nilai moderasi dalam kemenyeluruhan itu.
Bagian pengantar sangat jelas memberi panduan untuk memahami isi buku. Terutama perihal 15 karakter pemikiran Islam moderat. Lebih lanjut dalam buku dipaparkan tujuh kajian dalam sepuluh tulisan berformat makalah akademik. Kesemuanya adalah tentang moderasi Islam dalam bidang: tafsir, hadits, fikih, dakwah, peradaban, ekonomi, dan seni.
Bagi yang terlalu takut kepada Islam, buku ini dapat cukup melegakan bahwa ketakutan itu sejatinya tidak cukup meyakinkan untuk terus dipelihara. Sedangkan bagi yang terlalu takut dengan ancaman pihak non-muslim, buku ini cukup memberi kepercayaan diri untuk menatap dan menyerap Islam lebih rasional lagi sebagai entitas peradaban yang mampu berinteraksi dan berdedikasi sejajar di kancah peradaban dunia saat ini dan ke depan.
Buku dengan tema besar dan segar seperti Islam Moderat ini selayaknya dapat lebih sempurna, jika ikut memberi porsi lebih pada desain jilid dan tata letak. Mulai dari pemilihan font yang terkesan kurang elegan, hingga "kealpaan" mencantumkan nama penulis di bagian daftar isi. Biarpun begitu, secara keseluruhan, buku ini cukup mengisi ulang perbekalan intelektual siapapun yang ingin lebih jernih dan nyata memandang Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
