sehantar coretan tentang lembar-lembar terbitan


Sensasi Heureuy dan Pesan Wastafel

Sebuah buku Antologi Cerpen

Cacat. Berbahaya. Itulah wanti-wanti pada jilid muka. Entahlah cerpen atau catatan harian, yang pasti berslogan Kumpulan Kisah Tidak Teladan. Gejala narsis juga tertandai: itu dari adanya salutasi untuk diri penulis sendiri. Plesetan yang berdayatahan: "Sekian sampai kita berjumpalitan", penulis bilang di halaman pamitan. Kreativitas multitalenta: tinggal dibalik saja, nampaklah "paragraf cemerlang" pada jilid belakang seperti banyak buku lainnya.

Lalu nikmatilah 18 tulisan dan 26 ilustrasi—karya penulis juga. Kalau cukup beruntung, pembaca, optimislah tertawa. Tanpa perlu memaksakan diri untuk tergelak, senyum lebar rasanya sulit ditolak. Belum lagi godaan untuk membalik ulang halaman yang barusan dibaca. Lalu sontak membayangkan pembaca sendirilah yang tengah berada di sana. Menjadi tokoh utama yang mengendalikan suasana. Atau malah menjadi korban yang mau-maunya dibegituin secara semena-mena. Yang pasti, sama-sama memainkan narasi dan dialog lancar ala obrolan keseharian biasa saja. 

Yang terakhir inilah mungkin si pemicu tanya: ke mana gerangan ”perginya” tata bahasa? Tak perlu repot-repot mencari referensi. Seketika—mungkin seraya tertawa—ingatan bakal langsung meloncat ke kalimat yang nyaris tak pernah basi. Itu kalimat yang diajarkan sewaktu SD pada jam pelajaran membaca. Ini Ibu Budi. Itu Bapak Budi. Ini buku Pidi. Siapa hahahihi?

Seri Humor, memang begitu penerbit menggolongkannya. Berselimutkan Bandung dapat menggoda pembaca untuk bertanya: bisakah humor ini "berhasil" dengan latar budaya yang berbeda? Ah, ini mungkin kajian yang terlampau jauh. Itu sekedar bertanya agar memanaskan suasana saja.

Lebih asyik untuk sama-sama mengintip sensasi "heureuy" atau banyol/humor yang ada. Karena sensasi heureuy ini pula yang berlompatan serta merta. Liar dari judul ke judul, dengan gambar ilustrasi sebagai jeda. Tanpa pernah "punten" atau "mangga", dapat menggetar saraf tawa tiba-tiba. Pelafalan "f" sebagai "p", dan makna homonim kata "mangga" (antara buah-buahan dan ucapan permisi) termasuk yang tereksploitasi penuh sukacita. Ya, Sunda. Termasuk juga keakraban interpersonal yang terekayasa. Caranya: namai orang yang baru disua secara spontan saja!

Terbelalaklah! Beberapa korban cerita tampak benar-benar lugu. Sebagiannya justru seperti terseret arus "heureuy" dan ikut menyatu. Di sinilah sensasi heureuy itu berlangsung seru. Sama-sama "nyambung" dan menawarkan mutu. Seperti rampak kendang yang dimulai dari pukulan ke satu. Padahal dialog yang terjalin tak begitu panjang. Dialog yang monologis, dan monolog yang dialogis (Sebuah Pengantar, h. 12), kata Prof. Bambang. Bahkan, banyak yang sekedar ujaran, timpalan, tukasan, atau imbuhan ringan. Spontan tapi menyisakan renungan. Entahlah, mungkin inilah adonan antara kelucuan dan pencerdasan. Dengan catatan, ada pihak yang mendapat jatah untuk "diheureuyan".

Maka maafkan jika ingatan kemudian terseret perlahan pada tokoh Kabayan. Kabayan apanya? Tidak tahu juga ya. Ajip Rosidi menyebut Kabayan sendiri dapat berbeda sesuai karakterisasi dari pengarangnya (2008). Atau mungkin ekstrimnya dapat dibilang, Kabayan dimungkinkan untuk terhadirkan ulang sesuai keperluan dan kekinian cerita. Kapanpun, (dan mungkin) di manapun.

Jadi bolehlah Drunken Monster (lihat itu judulunya) ini dinikmati sebagai cerita Kabayan milenium tiga. Karena tanpa bisa digugat, nyatalah heureuynya sudah terlampau mengalir. Flow. Seperti Kabayan yang memandang orang lain sebagai objek candaan. Sedangkan si Kabayan-nya sendiri, seperti Ajip Rosidi kutip dari Utuy T. Sontani (1957), malah geus teu naon-naon ku naon-naon. Artinya, sudah tidak mempan diapa-apakan oleh apa-apapun juga yang biasanya mempengaruhi manusia. Sehingga ia tampil polos, jujur, dan apa adanya.

Nah, ”Kabayan” di buku ini juga teramat bergairah "membodohi" (baca: ngerjain) orang-orang. Ing ter ing, ter ing, ter ing. Tur do, tur do. Aing pinter, batur bodo. Aku pintar, orang lain bodoh. Seolah begitu. Begitu seperti lagu yang pernah si Kabayan dendangkan.

METAMORFOSISNYA, di sinilah ”Kabayan” menampilkan etos kerja dan hal-hal ”berperadaban” lainnya. Juga tanpa terganggu sekalipun oleh negasi Si Abah, sang mertua. Inilah pula profil Kabayan sejahtera: dikaruniai handphone, mobil, rumah, dan uang berjuta-juta oleh Yang Maha Kuasa. Ini penting, karena profil Kabayan selama ini jelaslah ditolak oleh banyak urang Sunda untuk dinisbahkan kepada dirinya. Meski mengisi ruang batin urang Sunda, kenangan kuat pada Kabayan ”hanyalah” pada ketulusannya menertawakan diri sendiri dan ”ceria” menghadapi masalah apapun juga.

Sensasi heureuy yang menderas sudah jelas. Tapi, apakah berbekas? Sebab, bukankah humor yang baik adalah penyebab tertawa dengan efek samping. Efek samping yang bagaimana? Achdiat (1982) seperti dikutip Mamat Sasmita (pegiat Rumah Baca Buku Sunda ”Jeung Sajabana”) menyatakan, ”humor yang baik adalah humor setelah kita dibuat tertawa, kita juga disuruh berpikir merenungkan isi kandungan humornya dan diakhiri dengan mawas diri.”

Dalam rambu ini, dengan sekejap merenung, pembaca mungkin bakal mudah dibuat merasa kagum. Bahkan mungkin iri atas kehangatan yang dinarasikan diam-diam. Mulai dari lingkup keluarga, pertetanggaan, pertemanan, dan "pemasyarakatan" sang tokoh cerita.

"Pemasyarakatan"? Ya, bisa jadi inilah identifikasi lain yang disahkan oleh pembaca. Seolah ”si Kabayan” ialah seorang narapidana yang terlepas dari Lapas entah di mana. Atau malah seperti pasien dari rumah sakit jiwa. Gila! Dan serunya, mungkin saja tak sedikit dari pembaca yang juga ingin seperti dia. Seperti aksi gila Mr. Bean yang konon mencerminkan keinginan terpendam banyak pemirsa.

Belum lagi kemahiran ”si Kabayan” yang satu ini agar membuat "tangan kiri" tidak tahu "apa-apa". Malah inilah sepertinya benang merah yang mengelim tema. Sehingga terlihat jelas jahitannya di pinggiran kain putih yang sengaja dibahankan oleh rangkaian cerita. "Tangan kiri" yang tidak tahu bahwa "tangan kanan" sedang asyik berbuat baik. "Gurauan asyik" bahkan kurang ajar pun seperti topeng belaka. Topeng atau malah tameng agar perbuatan baik leluasa meliarkan aksinya.

Dari kaca pembesar ini, agak wajarlah jikalau kritik cukup spontan muncul seputar bahan dan komposisi canda yang kasat mata. Ya, sebab tanpa tedeng aling-aling, sang tokoh cerita mendemonstrasikan kemahirannya ngaheureuyan orang-orang dengan cara "berbohong”. Inikah kebohongan yang apa adanya? Inikah kebohongan yang jujur? Ataukah sejenis kebohongan yang dimaklumi, dinikmati, untuk ditertawakan bersama?

Tapi, bagi siapa saja yang tidak tertawa, tentu tak perlu lekas merasa kecewa. Toh buku ini tidak pernah memaksa. Toh ini sekedar "naskah lain" yang Pidi Baiq selipkan ke meja penerbitan.

"Semacam Pendahuluan"-nya Drunken Monster justru layak dijadikan epilog bersama—bahkan bisa jadi inilah tujuan utamanya. Tepatnya ketika wastafel berpesan kepada Pak Dosen ITB yang mantan Dekan ini: dia yang marah adalah dia yang lemah, …apabila dia berilmu…seharusnya ia…lebih bijaksana. Lalu ”saya” mandi, wudhu, shalat, dan tidur. Ah, semoga Cacatan Harian ini tidak terbawa sampai mimpi. Atau jangan-jangan ada tawa yang tak sengaja tertunda sampai besok pagi?

Dan ya, satu hal lagi, setelah diingatkan pesan wastafel tadi: sepertinya Kabayan bukan Pidi, dan Pidi bukanlah Kabayan. Meski kedua karakter tadi sama-sama menyuguhkan sensasi heureuy yang menggiurkan. Sebagaimana orang Sunda pun bukanlah Kabayan. Ataukah Pidi akan mengganti Kabayan, menjadi legenda? Duh, ”gawat” juga kalau iya. Apalagi sejauh ini, buku H. Pidi Baiq sudah menyisakan kesaksian banyak orang: kami baca, kami tertawa, kami mendapat makna. Ini ”gawat” saja!

Referensi:
Ajip Rosidi. 29 Januari 2008. Si Kabayan. http://ajip-rosidi.com/esai-bahasa-sunda/si-kabayan/
Mamat Sasmita. Jumat, 10 Maret 2006. “Ngageuing” Melalui Humor Sunda”. http://64.203.71.11/kompas-cetak/0603/10/Jabar/358.htm


Lebih hemat belanja buku di Kutukutubuku.com. Copy kode kupon K1-A46B4D-X dan masukkan setiap bertransaksi.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://zakif.blogsome.com/2008/07/31/sensasi-heureuy-dan-pesan-wastafel/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com