“Tamasya” ke Canti
Ada ragam cara dan kesempatan untuk mengakrabi Indonesia. Wa Ode Wulan Ratna berbaik hati menyuguhkan satu lagi kesempatan itu. Melalui kumpulan cerpen pertamanya, Cari Aku di Canti, Wulan terlihat seakan sedang menjamu pembacanya untuk bermaknyus-ria “mempelajari” sang Nusantara.
Melukis 12 cerita, penulis kelahiran Jakarta yang sempat bermasa kecil di Kendari ini, hanya menghadirkan dua “lukisan pada kanvas pagi” (h. v) yang betul-betul “baru”. Keduanya yaitu Meja Gembol (h. 147-163) dan Batavus (h. 201-218). Selebihnya adalah “lukisan” cerpen yang sudah lebih dulu menggondol penghargaan atau pernah tersiarkan di media massa. Titimangsanya merentang hingga 2008 dari tahun 2005.
Kalaulah “tamasya buku” boleh juga dimaknai sebagai jelajah maya ke tempat-tempat yang menjadi latar cerita, maka membaca Canti dapat menjadi salah satu cara untuk menikmatinya. Tak hanya suguhan keunikan nuansa tempatan ‘lokal’ yang kental, garapan temanya pun dapat terhidang sebagai sarapan pencerahan menyangkut persoalan aktual.
Sebagai misal, sebut saja perihal pembalakan liar (Perempuan Nokturia, Kering, dan Bulan Gendut di Tepi Gangsal), jaminan pendidikan dasar (Catatan Harian Hans Mandosir), dan keping nasib pejuang veteran (Peluru-Peluru). Ketiga kilasan tema tadipun belum menggaunkan seutuhnya busana masing-masing cerita, sebab masih terjahit rapi dengan kain dari “potongan pola” problematika sosial lainnya.
Lebih dari itu, sosok perempuan sering dihadirkan sebagai tokoh utama. Ini membuat Canti layak diapresiasi sebagai penyuar riwayat getir kaum perempuan. Riasan merah-muda pada sampul apiknya, dapat dikenali sebagai penanda. Disebut getir, sebab dalam semua cerpennya, perempuan-perempuan itu bisa dibilang, “terluka”.
Untuk menyebut sedikit detail, kisah kasih cinta dalam tempurung—atau panggung(?)—tradisi, terasa cukup mewakili. Hadirlah juga cerita seputar: gadis, virginitas, vertilitas, dan jodoh; istri, kesendirian, dan misteri kesetiaan; serta kelumit lika-liku ibu sebagai orangtua tunggal. Ini pulalah yang justru secara elok dijadikan bekal, untuk menggambarkan perempuan yang tabah dalam membekukan “darah” setiap masalah yang meluka nyaris tak tecegah.
Hal lain yang tak kalah menarik, buku yang disanjung oleh Hamsad Rangkuti sebagai “penuh ungkapan-ungkapan baru” ini, melalui penuturannya yang puitis, seakan merajuk pembaca untuk mengembangkan serbaneka bedahan yang memperkaya. Mungkin ini sekadar akibat wajar dari kesungguhan pengarang dalam menggarap ladang romantisisme berpupuk tema cinta.
Sebagai contoh adalah kehadiran kata “(pel)ajar”. Kata ini seperti mencuplik tempat tersendiri dalam pembacaan Wulan. Lebih kurang, jadi menyerupai kotak teka-teki yang meruangkan rasa penasaran. Simak salah satu penunjuknya dalam Kembang Sri Gading (h. 111): “…siapa pun mereka, perlakukanlah mereka sebagai pengetahuan.” “Mereka” dalam larik tadi, merujuk kepada “kekasih”. Saat “kekasih” dilihat sebagai “pengetahuan”, maka apatah lagi yang dapat disetarakan dengan makna “mencintai”, selain kata ”mempelajari”.
Tak buntu sampai di sana, menarik juga untuk memperkirakan (atau bahkan memperkarakan?) adanya keterpautan: antara kandungan kadar hal-hal vulgar dengan misi penerbitnya (yang lahir dari rahim FLP). Ini dapat membuat pembaca bertanya-tanya (atau malah keheranan?): apakah Canti merupakan sebentuk alternatif kreatif, kelanjutan dari kritik terhadap “sastra madzhab selangkangan”? Jika memang iya, maka bisa jadi, kehendak Wulan untuk menembus hati pembaca (serupa sinar matahari yang menembus kisi jendelanya [h. viii]) makin sukar untuk tidak terpenuhi.
Namun, bagi mereka yang mendukung gerakan penanggulangan masalah merokok, bersiaplah menyelingi kesegaran hawa membaca dengan sedikit rasa kecewa. Musababnya, secara gamblang ada penggambaran tokoh cerita yang mengiyakan rokok (Cari Aku di Canti, h. 20).
Padahal rasanya, pengembangan karakter seperti itu, tak terlalu mendesak untuk disuguhkan. Apalagi dalam cerpen dimaksud, dengan keindahan asri alam Lampung yang sedemikian kerapnya dikisah (dan ini yang menjadi salah satu alasan bahwa Canti memungkinkan pembacanya untuk merasa bertamasya), pengiyaan rokok seakan menjadi “polutan”.
Biarpun begitu, menimang buku yang berhasil terpilih dalam ‘Khatulistiwa Literary Award 2008’ ini, seperti memegang tiket tamasya sebuah paket wisata rupa-rupa dengan banyak sudut unik yang di sana-sini bertabur—seturut kata sagangan Maman S. Mahayana—narasi cantik. Canti dapat menjadi “pembuka jendela” terhadap dunia—bukan buana mana-mana—tapi, Nusantara kita. Maka sekiranya absah dimaknai “lain”, tema-tema dalam Cari Aku di Canti sepertinya hendak juga berkata: Cari Aku di Indonesia! Dengan catatan, suara-suara warga luar-Jawa menjadi terdengar begitu nyaring dan bergema.
Tak heran, dengan kombinasi semuanya tadi, Canti tak lekas menjemukan walau di-tamasya-i berkali-kali. Entah dalam peran petamasya laksana “Siti Rahma yang berlama-lama kabur dari Jakarta” ataupun sebagai “Pras yang memungkas pencarian dengan senyum dan bayangan tentang rona merah di pipi sahabatnya”.
