Idealisme dan Romantisme dalam Sebuah Novel
Renungan Sekar Pembayun itu dengan galau menutup 22 bab plus epilog novel sejarah karya Afifah Afra ini. Setahun sebelum cerita dipungkas oleh Sekar di pengasingan, kisah bermula dengan kedatangan Rangga Puruhita dari pendidikan sarjana ekonomi di Leiden, Belanda.
Pulang menyandang yudisium tertinggi, kecendekiaan Rangga langsung digedor oleh ketertindasan kaum pribumi. Masuk sebagai bagian elite dalam sistem ekonomi kapitalisme pabrik gula, tak cukup membuat perbaikan menjadi nyata. Perjuangan dari dalam terlalu mempermainkan kesadaran akal sehatnya. Hingga di puncak pembelaan terhadap warga yang menuntut keadilan harga sewa tanah, Rangga justru mendapat putusan pecat. Pertemuan dengan Eyang Haji dan usahawan muslim turut menguatkannya untuk memilih jalan lain yang lebih leluasa dan berdampak nyata: perlawanan dengan pemberdayaan.
Pematangan kesadarannya itu, sedikit banyak dipengaruhi oleh interaksi dengan Kresna (misterius), Pratiwi, Sekar, dan Jatmika yang lebih dulu terlibat dalam perjuangan Partai Rakyat. Salah satu sulut buat Rangga juga ialah kehadiran sosok antagonis, Jan Thijsse yang menjadi kepala pabrik gula baru dengan kapitalisme destruktif dan mental penjajah tulen. Belum lagi fakta bahwa Thijsse ternyata suami Kareen, sosok wanita Belanda yang pernah menarik hati Rangga ketika sekapal dalam perjalanan pergi-pulang Indonesia-Belanda. Ditambah dengan kisah tradisi keraton yang menjerat Rangga dan Sekar, maka seiring itu pula kisah cinta merambatkan julur dan membelit-belit jalan cerita.
Tanpa bertopeng kata, novel ini jelas menghadirkan tiga ideologi sekaligus: Islam, kapitalisme, dan sosialisme-marxisme (bukan komunisme). Memang inilah ideologi yang menyemangati panggung sejarah Indonesia jelang kemerdekaan–kecuali kapitalisme (dan imperialisme) sebagai musuh bersama. Soekarno dalam Suluh Indonesia Muda (1926) menyebutnya (plus nasionalisme) sebagai tiga sifat bagi "njawa pergerakan rakjat" di Indonesia dengan maksud sama: Indonesia merdeka (Soeripto, 1962).
Sayangnya, novel yang telanjur eksploratif dan mencerahkan ini belum habis-habisan dalam menguak keempat isme itu. Penyebutan nama terkait ideolog(i) besar dunia pun masih terkesan cuma selayang pandang. Kecuali memang, kapitalisme jelas jadi bulan-bulanan. Ini pun seperti tanpa "pembelaan" memadai, karena ideologi mendunia itu dipersonifikasikan secara berlebih kepada moralitas seburuk Jan Thijsse.
Kapitalisme sendiri terlembaga dalam pabrik gula. Secara ekonomi, industri ini memang memberi kemakmuran luar biasa kepada Belanda. Hanya, harapan untuk menemukan kiprah terorganisasipergerakan muslim dalam novel karya peraih FLP Award 2002 ini, justru masih belum cukup terpuaskan. Padahal dengan latar pabrik gula, pembaca seakan digoda dengan ingatan sejarah perlawanan pesantren di nusantara yang sepertinya belum banyak mengemuka. Kawasan pakauman yang biasanya berdiri "menantang" di dekat pabrik gula dapat menjadi indikasi awalnya.
Secara keseluruhan layak diakui, De Winst relatif mampu menyegarkan beragam hal secara reflektif utamanya seputar visi kemajuan, misi kemandirian, intensi keadilan, dan obsesi kesejahteraan berkerangka keindonesiaan dan tantangan globalisme. Kesemuanya benar-benar dalam atmosfer idealisme, dan sesuai dengan kadarnya, juga romantisme.
Kalau Deddy Mizwar sempat risau, sebab belum ada lagi film baru bertema kebangsaan di momen 100 tahun kebangkitan nasional seperti sekarang (sehingga menayang ulang Nagabonar), maka dari dunia novel, karya penulis FLP ini seolah turut menjawab kerisauan itu–dan mungkin kerinduan kita semua.
