“Sepatu Montazer” ala Soldiers
Peledakan lagi, penangkapan lagi. Begitulah ringkasnya novel berjudul S.O.A (Soldiers of Allah) ini menandai prolog dan epilog cerita. Kendati judulnya berbahasa Inggris, buku ini adalah karya novelis Indonesia. Latar utama ceritanyapun bukan di Eropa atau Amerika. Aroma teori konspirasi dan isu terorisme, pekat sekali meruap di ruang tema. Perimbangan kekuatan diperhadapkan secara remang-remang. Laga baku tembak mendominasi klimaks pengisahan.
Ke(tak)berimbangan agaknya memang selalu mencuplik sejarah perang. Pada masa Rasulullah, Perang Badar adalah salah satu contohnya. Pelbagai senjata tradisional dalam jihad mengusir penjajah di penjuru nusantara, menyenaraikan riwayat serupa. Bambu runcing dan bedil seadanya, mengulangi lagi irama perlawanan kemerdekaan di sekitar tahun ‘45. Dan mudah untuk dipercaya, kalau ternyata intifadah Palestina merupakan cuplikan yang tak jauh berbeda.
Lantas bagaimana, jika sekarang ada sekelompok orang dari umat Islam yang “secara mandiri” menerampilkan diri untuk mengimbangi laku-lampah perang intelijen asing di negaranya? Kisah kecakapan intelijen umat Islam itulah yang menjadi tema pokok novel bercap “seri petualangan intelijen” ini. SOA adalah identitas bagi “sekelompok orang” itu. Dan Master of SOA ialah nama samaran aktor intelektualnya.
Temanya sensitif. Sebelumnya, ada juga novel intelijen Sayeret Matkal dan novel jihad Islam Prahara Budennovski dari penulis yang sama. Komarudin Ibnu Mikam, sang novelis yang pernah berprofesi sebagai jurnalis dan penyiar radio ini, terkesan sedang tersiram (dan menyiramkan) keberanian, sekaligus terlihat berusaha untuk hati-hati. Paling terasa adalah triknya dalam menyandikan penokohan dan latar cerita. Sebut saja ada Kiai Amar, Detasemen 99; juga Negeri Khatulistiwa, Bintang David, Adi Daya, dan seterusnya.
Betapapun disebut hanya kebetulan, pembaca dapat gampang mengerti seakan ada “kesengajaan” yang diisyaratkan. Bahkan pembaca bisa merasa, dalam beberapa bagian, SOA adalah reka-ulang lain atas kejadian nyata yang sempat menjadi episode utama dalam serial “terorisme” di Indonesia.
Nuansa Islamnya ditampakkan lebih tegas justru dalam bentuk komunikasi dunia maya. Di antaranya berupa wejangan Master of SOA lewat pos-el dan chatting. Berbagai dalil Al-Qur’an dan hadits, serta sirah nabi-nabi, bertebaran secara leluasa melalui bentuk penceritaan seperti itu. Ditambahi juga dengan refleksi atas ragam peristiwa pilu yang menimpa dunia Islam selama beberapa masa ke belakang.
Kisahnya berjalan cukup menggairahkan, sebab penokohan dan alurnya dibuat saling berkelindan. Kolonel Prasetyo Wirawan, si tokoh utama yang mantan komandan Detasemen 99 dan kemudian menjadi pentolan SOA, ternyata memiliki hubungan akrab, baik dengan tokoh protagonis maupun antagonis.Makin seru ketika muncul tokoh Dr. Arf sang ilmuwan teknolog. Imajinasi pembaca ditarik begitu rupa, membayangkan penguasaan bioteknologi dan persenjataan canggih kelas dunia. Meski memang, di bagian ini, pembaca dapat serta-merta diingatkan kepada pola fiksi intelijen yang kadung populer di benak awam. Bagaimanapun, mungkin ini dapat dianggap sebagai sebuah pesan, bahwa keberimbangan kekuatan layak disiapsiagakan sebelum menggerakkan sebuah perlawanan.
Hanya agak disayangkan, sedikit kekeliruan turut ambil bagian dalam novel yang menggebu-gebu dan penuh semangat ini. Pengiriman pos-el SOA misalnya, semua berterakan pukul 14:49:12 +0700 (h. 2, 98, 107, 133, 161, dan 192). Entah ini disengaja atau kesalahan cetak saja. Kalau disengaja, bukankah itu sebuah celah bagi “musuh” untuk mengetahui pola komunikasi SOA (dan karenanya butuh penjelasan memadai dalam cerita). Termasuk pula pilihan penggunaan layanan pos-el “milik musuh” yang rentan diretas dan mudah dilacak. Lebih “gawat” lagi, tanda tangan “Master of SOA” pun sempat keliru menjadi “Master of ALLAH” (h. 108).
Setuntasnya membaca, mungkin ada yang bertanya-tanya: apa sebenarnya yang diinginkan Bang KIM—panggilan akrab novelis kelahiran 1972—ini? Apakah SOA sebatas inspirasi dan obsesi, atau malah agitasi dan provokasi? Mungkinkah juga karya yang konon diilhami dari kisah nyata “mantan agen CIA” ini dapat ditafsiri seperti “sepatu Montazer al-Zaidi”?
Dalam konferensi pers lawatan perpisahan presiden Bush di Irak, jurnalis Irak itu memilih untuk “menghadiahkan” sepatu. “Hadiah” yang kalau sempat dipita manis barangkali akan ikut tertulis: kemanusiaan itu bukan basa-basi dan klaim-klaim kosong ala Bush, apalagi versi petinggi Zionis.
Ketika air di buminya sudah terlanjur berwarna darah, dan senjata masih tertodong ke kepala banyak anak negeri, sementara tangan kosong terlucuti; Zaidi seolah punya ide cemerlang dengan sepatunya. Berbagai aksi demonstrasi pun, belakangan ikut meniru idenya itu. Tak seimbang memang: sepasang sepatu melawan penjajahan modern.
Tapi logika perlawanan seakan tak wajib bertanya soal waktu. Ia bisa muncul kapan saja, selama ada penindas yang dianggap melewati batas-batas tertentu. Toh siapa sangka, perang Diponegoro di masa silam, disebut-sebut nyaris membangkrutkan Belanda. Darah pejuang kemerdekaanpun turut mewarnai arti pada merah warna sangsaka. Dan dari perkembangan mutakhir, mayoritas rakyat Palestina telah pula memilih jalan perlawanan untuk mengembalikan hak-hak mereka yang terampas sejak lama.
Seriak dengan gelombang perlawanan, novel SOA dapat diposisikan sebagai teropong yang menyempal dari lensa-utama pengopinian Barat soal terorisme. Maka, peluangnya besar untuk diledek sebagai utopia, khayalan dangkal penghibur umat, atau setidaknya, kontroversi tak berguna. Tapi semangat perlawanan dan hasrat intelijen di dalamnya layak diangkat. Jadi lebih kurang, seperti paket “sepatu Montazer”. Walaupun tentu, SOA bukan sepatu, tapi buku.
Cuma pertanyaan berikutnya: siapa kira-kira yang layak menjadi subyek “pelempar”nya? Jangan-jangan kita sendiri atau siapapun mereka yang merasa tak kunjung dipihaki oleh bersatunya keadilan, kebenaran dan kekuatan dalam naungan negara.
Semoga dengan novel ini (mengingat nasib Montazer al-Zaidi), Bang KIM tak sedang mempertaruhkan dirinya sendiri. Wallaahua’lam.
Luar biasa nich buku……salut buat pengarangnya…
Comment by irwan — 31 March 2009 @ 1:39 pm
2 paragraf terakhir menurut saya merupakan comment yang sangat inspiring , semoga bisa menjadi kelanjutan pada novel berikutnya.
Wish U Luck
Comment by koko — 31 March 2009 @ 5:09 pm
@irwan
Beberapa bagian novel ini, mungkin akan terasa menjemukan. Tapi penilaian akhir ada pada pembaca.
@koko
Terimakasih buat apresiasinya Mas. Saya belum tahu kalau bakal ada sekuelnya.
Comment by zakif — 6 May 2009 @ 4:44 pm