sehantar coretan tentang lembar-lembar terbitan


“Teror” Barbara Victor

Sebuah buku Sejarah

Perempuan melahirkan kehidupan. Tapi di bumi Palestina, kematian lebih lahir dalam hidup keseharian. Barbara protes. Ia terguncang melihat gelombang kesediaan kaum wanita untuk menjadi pembom “bunuh diri”. Ia mengutuk aksi pemungkinnya sebagai “aksi paling tak bermoral” (h. 392). Maka wawancara dan liputannya di Palestina, sepanjang Intifadah 1 & 2, berlanjut lebih dalam selama 2001-2003; terbongkah menjadi “batu”. Dilemparnya “batu” itu kepada para pemuka agama dan pemimpin negara. Melesetkah lemparannya?

Adalah Wafa, Darine, Ayat, Andalib, Alkudsi, dan Hiba, di antara perempuan yang dipreteli riwayat hidupnya dalam Laskar Mawar. Masa lalu yang kelam dari perempuan-perempuan itu dijadikan latar getir dalam kisah-kisah yang diketengahkan. Termasuk saat-saat menjelang peledakan pun difokus secara tajam. Mereka akhirnya termasuk yang dikenang Barbara sebagai “perempuan muda putus asa dan tak berdaya” (h. 398).

Cerita-cerita yang sukar diumbar dalam berita-berita, dijelentrehkan Barbara sedemikian rupa. Tak mudah untuk membantah kegalauan sekaligus gugatan jurnalis spesialis Timteng dan isu perempuan ini. Itu karena ia mendapat informasi dari orangtua pelaku, korban langsung, dan mereka yang ditahan Israel di penjara.

Wajar kalau Anies Baswedan memuji karya jurnalis yang juga meliput pembantaian Sabra-Shatilla (1982) ini sebagai “narasi yang ilustratif dan informatif” juga “detail dan partikularistik” sebagai bukti kekuatan penulisnya “dalam memenetrasi subjek yang dianalisisnya.” Komentar pakar dan wawancara tokoh menjadi penguat di sana-sini. Emosi pun bisa campur aduk: takut, ngeri, sedih, geram, marah, kasihan, simpati, hingga empati.

Kendati “mengata-ngatai” perempuan Palestina dengan nada kecewa, keberpihakan Barbara kepada feminisme tergambar jelas. Secara terpola ia mewawancarai narasumbernya, hingga kesimpulan utama pun dirasanya berhasil dipertahankan, bahwa status perempuan di Palestina ialah kaum kelas dua, dan “bom bunuh diri” dianggap sebagai jenjang penyetara. Adapun manipulatornya, simpul Barbara, ialah para elit pemimpin Palestina.

Sorotan-sorotan dalam buku ini, bukan tak mungkin, turut dipertimbangkan oleh petinggi Zionis Israel, seraya mematangkan rencana pembunuhan Syekh Ahmad Yassin dan Dr. Al-Rantisi (mungkin juga termasuk peracunan(?) Yasser Arafat) di tahun 2004. Bahkan foto ketiganya tampil sehalaman (h. 386). Sedangkan Mohammed Dahalan (Dahlan?) dan Mahmoud Abbas (Abu Mazen), sebagaimana terapresiasi positif dalam buku ini, masih aman dari incaran Zionis Israel hingga kini. Walaupun Barbara sendiri mengakui, ia merasa kesulitan dalam menjelasakan perasaannya, di antara pilihan pro-Israel atau pro-Palestina.

Kalau disikapi secara terburu-buru, “batu” Laskar Mawar dapat menjelma menjadi teror. Mereka yang cukup yakin dengan sakralitas dan keluhuran bom syahid, dapat langsung tergoda merevisi pandangannya selagi membaca buku ini. Begitu juga bagi mereka yang habis-habisan mencemooh teror bom bunuh diri, siapa nyana justru dapat seketika berbagi uluran, permakluman atau malah dukungan. Bagaimanapun, worldview yang Barbara gunakan dalam memandang tragedi, benar-benar faktual dan menantang. Keterencanaannya dalam me-reka ulang pencitraan pelaku pemboman (baik yang berhasil maupun yang gagal), dapat menyihir pembaca.

Hanya tak dapat dipastikan, apakah “batu” yang dilemparnya hampir enam tahun silam, meleset dari sasaran. Mungkin juga terhalang tembok rasis-apartheid ala Zionis, atau hancur terlumat bom fosfor putih tempo hari. Bukan apa-apa, Perang Gaza membuat buku ini kian relevan saja.


Lebih hemat belanja buku di Kutukutubuku.com. Copy kode kupon K1-A46B4D-X dan masukkan setiap bertransaksi.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://zakif.blogsome.com/2009/02/05/teror-barbara-victor/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com