sehantar coretan tentang lembar-lembar terbitan


Ada Cinta Tujuh Warna

Sebuah buku Novel, Sejarah

Ada masa manakala bumi nusantara sangat akrab dengan tikar, kuda, keris, pedang, panah, lumbung, gerobak, padepokan, kanuragan, kerajaan, dan istana. Ketulusan, kesahajaan, dan kearifan sudah pula menjiwai lembaran klasik pudak riwayat hidup masyarakat di masa itu.

Perjalanan demi perjalanan sering tercatat sebagai gelinding jarak dan waktu yang benar-benar jadi pembeda dan penentu. Babak demi babak perubahan kadang tersekat oleh galangan sejarah berpetak-petak. Tapi juga tak jarang malah berjalan bersijingkat-bersegera di lahan-lahan peristiwa yang begitu lega.

Disekat dalam petak sejarah senjakala Majapahit, S. Tidjab justru menyemai kisah Pelangi di Atas Gelagahwangi-nya sedemikian leluasa. Dengan sabar, penulis Tutur Tinular, Kaca Benggala, dan Mahkota Mayangkara ini menandur benih-benih alur cerita yang dipelihara secara seksama, sebelum ragam konflik dan solusi menguning silih-berganti, ditambah tegak-rebah berjenis kisah.

Adalah Mpu Janardana yang jelang usia kepala empat dan jodohnya belum kunjung mendekat. Selang lima tahun sejak perjumpaan terakhir, delapan belas desa pun dilintasi demi janji melawat Resi Wiyasa kakak seperguruannya. Ternyata itu tak berlanjut sebagai lawatan biasa. Ada cinta segitiga. Ada kepulangan. Ada rasa kecewa. Sementara kelak, suara hati justru menyurati dan menyunting bidadari yang puspita.

Naradipa menjadi pengantar bagi perjumpaan dan perubahan berikutnya. Syiwa dan Islam dipertemukan di tanah Jawa. Alir perbincangan dua-agama menyampir titik sejarah yang bakal hadir. Ada kepindahan. Ada rasa takzim. Ada kalimat-kalimat persaksian. Dari padepokan hingga pesantren. Dari dunia cantrik jadi dunia santri. Kehangatan masjid menggantikan puri. Hingga Majapahit yang beralih generasi. Sirna ilang kertaning bumi.

Cinta yang diangkat dalam novel sejarah ini bukan semata ikat asmara jejaka perkasa dan gadis cantik belaka. Melainkan juga ada dalam simpul kakak-adik, orangtua-anak, suami-istri, kakek-cucu, guru-murid, dan pemimpin dengan rakyatnya. Kekaguman atas pesona rupa ditebarkan seperti pupuk yang menyapa mesra akar-akar cerita. Terkadang bisa dikesankan terlalu memihak bibit-bibit genit di alinea-alinea polos yang kelewat gembur. Tapi kemudian pembaca dapat dibuat bernafas lega, membebaskan bosan, sebab dipicu keluar, tumbuh dari tanah subur dengan bertunas-tunas tafsiran tentang arti jelita dan tampan. Belum lagi pesona kebijaksanaan yang berulangkali dikontemplasikan oleh beberapa karakter dengan ragam latar belakang.

Tak kurang ada lima ulama walisongo tampil ke muka. Raden Patah dan Raden Husein ialah dua saudara yang berseteru satu sama lainnya. Selain soal tahta dan negara, episode pilu masih berlangsung hingga melibatkan kenangan masa lalu. Ada kutukan kijang betina yang berulang memanah sasarannya. Dua perempuan bernama Endang kembali saling bersua. Pangracut Sukma dan Rikma Sidi tetap jadi dua jurus primadona. Didampingi Abdul Rochim, Siti Fatimah akhirnya mengucap syahadah di ujung hidupnya. Sementara si bocah Putut Jantaka, rupanya sukar menjauh dari kakek tercinta.

Terlahir lebih awal sebagai naskah sandiwara radio, bisa dibayangkan adanya olahan konflik yang mengendur-kencangkan imajinasi. Kecemburuan, kesalahpahaman, prasangka, ambisi kekuasaan, permusuhan, intrik, termasuk laga-laga persilatan bermunculan menyiratkan laju zaman.

Kendati bobot sejarahnya tak melampaui drama cintanya, Pelangi di Atas Gelagahwangi malah banyak berbagi momen-momen yang layak terus dilestarikan, disejarahkan. Contohnya ihwal toleransi sekaligus ketegasan, dan cinta kasih sekaligus perlawanan. Bahkan dengan prisma yang lain, pembaca dapat memanen lebih banyak lagi pelangi dari karya penulis kelahiran Solo tahun 1946 ini. Mungkin pula semisal isyarat pelangi yang dari jauh dilihat Prabu Brawijaya. Isyarat yang di detik-detik terakhir kekuasaannya ia maknai dengan berkata: kita tidak mungkin bisa membunuh semangat zaman yang ingin perubahan.


Lebih hemat belanja buku di Kutukutubuku.com. Copy kode kupon K1-A46B4D-X dan masukkan setiap bertransaksi.

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://zakif.blogsome.com/2009/02/07/ada-cinta-tujuh-warna/trackback/

  1. Kemarin saya mau beli buku ni, tapi lupa bawa uang.
    Nggak jadi deh, kasian banget aku.

    Thx, resensinya. Minimal dah tahu sedikit isinya..
    Nice, bro!!!

    Comment by adnan — 1 March 2009 @ 8:43 am

  2. You’re welcome bro! Seneng kalo coretan ini dpt bermanfaat.

    Semoga taklupa lagi, lain kali (mungkin, sekarang sudah beli?).

    Salam,
    zaki

    Comment by Administrator — 15 March 2009 @ 4:32 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com