“Dihukum” di Rumah Kebahagiaan
Sekali-sekali berpikir positif, tidak akan pernah mengubah hidup. Yang harus dilakukan adalah mengulang-ulang pikiran positif tersebut sebanyak dan sesering mungkin. Pikiran adalah segalanya. Pikiran untuk kebahagiaan adalah kesadaran yang selayaknya berhasil ditemukan. Sebab bukankah semua orang ingin bahagia. Tapi keanehan kadang terjadi dan membuat banyak orang bertanya-tanya, mengapa susah sekali untuk hidup bahagia. Padahal selain kebahagiaan, apalagi yang dicari dalam hidup?
Begitulah kira-kira Arvan Pradiansyah (pakar dan praktisi SDM) memberi senyum pembuka dalam buku terbarunya The 7 Laws of Happiness yang terbit menyusul karyanya terdahulu seperti You Are A Leader!, Life is Beautiful, dan Cherish Every Moment.
Penulisnya menyebut, alih-alih buku teoritis, The 7 Laws ini justru buku yang sangat praktis mengenai kebahagiaan. Malah tujuh rahasia yang dibaginya, ditawarkan seumpama tujuh makanan bergizi yang mesti dipenuhi. Termasuk juga ada penjelasan khusus: mengapa tujuh? Apakah urutannya berpengaruh? Dan seterusnya, hingga nyaris semua jawaban terpaparkan bagi pembaca yang siap bertanya-tanya.
Bahagia, menjadi kata-kunci yang dipahat, diukir, dan ditatah setahap demi setahap. Buku ini meyakinkan pembaca tentang kekuatan memilih pikiran (bukan hanya memilih tindakan) sebagai hal utama. Maka sedari awal, pembaca seakan sudah diserahi kunci bernama kebahagiaan. Lalu penulis yang lebih dulu dikenal lewat bahasan bertema manajemen dan leadership-nya itu, seolah mengajak pembaca memasuki sebuah rumah.
Sembari berkisah banyak peristiwa dari contoh dunia nyata, pikiran-pikiran kebahagiaan pilahannya disusun satu demi satu. Terpilah menjadi tujuh, paparannya hadir secara renyah dan populer menyentuh fondasi dalam-diri, bangunan kokoh dalam menjalin hubungan dengan-orang-lain, serta atap pendekatan-kepada-Yang-Di-Atas. Dimulai dari sabar, syukur, dan sederhana (intrapersonal); kasih, memberi, dan memaafkan (interpersonal); hingga kepasrahan (spiritual).
Tentu, semua tadi itu dibeberkan, setelah prinsip-prinsip dasar yang tak kalah kuat dan praktisnya, dijelaskan lebih dulu. Termasuk tawaran untuk memraktikkan dua teknik dalam mengelola pikiran: teknik mind booster dan teknik lima kotak.
Tabel, diagram, dan kutipan secukupnya membuat konsep-konsep kian jelas. Penataan dan pengulangan fokus pada kalimat dan paragraf utama, bakal tambah memudahkan pembaca dalam menyerap saripati isi buku ini. Kejenuhan membaca, bisa jadi makin sukar menghampiri, sebab di sana-sini dihiasi latar dan gambar ilustrasi.
“Hukuman” rahasia, sungguh-sungguh dapat ditimpakan buku ini kepada para penemu bahagia. Di rumah kebahagiaan, dengan doa kepasrahan, siapapun rindu untuk “dihukum” tanpa ampun. Meski terkesan sederhana, namun nyatanya rumit juga untuk “divonis” bahagia. Maka buku ini seperti berbagi solusi, jauh dari kerumitan, malah sebaliknya: mengasyikkan dan sederhana pula. “Dalam hidup ini, segala sesuatu yang sederhana, bagaimanapun juga, adalah hal yang paling nyata,” ulang Arvan mengutip Laura Ingalls Wilder.
