Belajar Dari Saudagar Ide Segar
Industri kreatif menjadi istilah yang kian menarik diperbincangkan. Hitung-hitungan pemerintah dan perguruan tinggi membuahkan prediksi optmistik bahwa sektor kreatif memang menjanjikan kontribusi besar bagi kesejahteraan bangsa di masa depan.
Di tengah luap harapan atas perkembangan industri kreatif itulah buku ini hadir seolah gayung bersambut, mewartakan kisah sukses salah satu penggelutnya, langsung dari tangan pertama. Lebih dari sekadar curhat, Arief Budiman, wong Rembang sang penggelut tersebut (penulis buku ini), bahkan berbagi isi dapur perusahaan yang dipimpinnya, Petakumpet.
Mulanya, Petakumpet adalah studio garapan komunitas mahasiswa Diskomvis (DKV/ Disain Komunikasi Visual) FSR ISI Yogyakarta angkatan ’94. Pesanan yang mencapai omset jutaan rupiah diladeni setiap bulannya. Setelah beberapa tahun, Petakumpet lalu bertransformasi menjadi perusahaan biro-iklan lokal profesional yang merambah kancah nasional. Lantas omsetpun kini mencacah angka miliaran rupiah. Lusinan penghargaan berhasil digondol. Tapi mimpi belum berhenti, sebab seperti dituliskan beberapa kali, Petakumpet berhasrat besar untuk menjadi yang terbaik dalam lingkup global.
Dari jilidnya, buku ini terlihat menghambur kata-kata bombastis. Tapi muatan di dalamnya nyata, bukan jenis “sesat” seperti genre buku “kaya cara cepat” yang mungkin kerap dianggap semu. Malah, liku-liku jatuh bangunnya sebuah contoh perusahaan yang melayani industri kreatif, ikut tertayang secara memadai. Maka selain curhat, “Jualan Ide Segar” bisa juga “dicap” sebagai sebuah company profile. Kesan yang wajar, karena memang penulisnya mengaku mempergunakan pendekatan case study dalam menulis buku berbonus CD senilai ratusan ribu rupiah ini.
Sekalipun tentu, tetap saja citarasa penyampaian ala seniman begitu mudah dirasakan saat pembaca membuka halaman demi halaman. Walau terkesan acak dan meluap-luap, seketika itu juga pembaca dapat menikmati ada inspirasi dan optimisme yang terserap.
Tak heran, sebab kendati berfokus pada bisnis “biro iklan”, penulis justru bertukar sapa pembuka kepada segenap keluarga-besar creativepreneurship. Hal tadi bisa dipahami, karena ternyata buku yang dipilahkan ke dalam enam bab ini, banyak berisi tawaran mindset, konsep dan gelontoran motivasi. Sehingga dapat tetap nyaman untuk dinikmati oleh kalangan non-biro iklan.
Setelah mengawali kisah dengan kabar duka salah satu proyeknya, penulis langsung menawarkan definisinya tentang “bisnis ide”. Lalu dibahas juga tentang delapan alasan mengapa memilih bisnis ide. Beberapa wawancara dan liputan media turut disertakan dalam bagian-bagian pengantar ini.
Selanjutnya penulis membedah isi dapur perusahannya. Apa yang disebut sebagai kejaiban, visi misi, pilar-pilar perusahaan, manajemen SDM, manajemen ide dan kreasi-kreasi lain dalam mengembangkan sebuah biro iklan, diungkap di bab ini. Barulah setelah itu, apa yang mungkin dipromokan dalam jilid sebagai “tanpa modal”, dikupas lebih jelas dalam bab Menggali Harta Karun Gratisan.
Meskipun berada dalam posisi “saudagar”, penulis justru tak segan melontarkan kritik terhadap sudut-pandang “melulu uang”. Tak ketinggalan, turut disoroti pula bagaimana perkembangan industri kreatif di tengah masyarakat. Buku pun ditutup dengan epilog sukacita dan penegasan penulis akan mimpinya.
Ditulis oleh peraih predikat mahasiswa teladan dan sarjana seni lulusan terbaik beryudisium cumlaude, bisa jadi membuat buku ini makin punya kredibilitas tersendiri bagi para pembacanya. Walapun penulisnya sendiri mengaku, tak pernah sekalipun menggunakan ijazah yang diperolehnya itu.
