sehantar coretan tentang lembar-lembar terbitan


Citarasa Puisi “Tahun Ini”

Sebuah buku Antologi Puisi

Puisi Indonesia Terbaik 2009Membaca puisi, mungkin belum sepopuler membaca novel. Saat coba membaca puisi, seringkali malah susah dimengerti, lantas kadang bikin mangkel dan sebel. Kalau menyadur ungkapan Ikranegara, seperti dikutip penyair Ook Nugroho dalam blognya, baca-tulis puisi memang “bukanlah urusan seringan angkat barbel”.  

Namun apakah tertutup peluang untuk masuk dan duduk di kafe puisi, lalu memesan menu pilihan yang sudah diseleksi oleh “koki” terkemuka, lantas mencicip barang sekecap dua kecap? Tentu tidak. Anggaplah saja, kafe puisi tak kenal waktu tutup dan buka. Maka kapanpun, siapapun, dapat bersama menjadi pelanggan setia, demi menyantap “sesuatu” yang diduga bisa menyedia keindahan, makna, atau syukur-syukur, keduanya.

Buku antologi puisi berlabel “Anugerah Sastra Pena Kencana” ini, mengoleksi “puisi terbaik” dari “puisi di koran” terbitan 1 November 2007 hingga 31 Oktober 2008. Karena itu, meski dalam judulnya tertulis 2009, 11 puisi justru berasal dari koran terbitan tahun 2007, dan sisanya (sebanyak 49 puisi) dari tahun 2008.  

Urusan angka, memang banyak yang terlibat: ada 60 karya, (dari) 12 koran, (kreasi) 34 penyair, dan (hasil seleksi) 7 orang juri. Kesemuanya tadi, bisa ditemukan dalam buku yang juga akan berbagi total uang sebesar 50 juta rupiah (lewat sms berhadiah) untuk tiga orang pembaca. Para penyairnya sendiri, sudah beroleh tigaperempat juta rupiah untuk setiap judul termuat.  

Perihal angka tadi, mungkin berkait erat dengan prakata yang memuat blak-blakan tentang bagaimana sastrawan sebagai “sosok bermartabat”. Bukan sekadar sosok, melainkan ia yang “mendapatkan penghargaan besar” dan karyanya “menggaet pasar”. Dengan demikian, angka-angka itu memang punya tujuan.

Beragam “aliran puisi” ternampan di buku ini. Panjang dan pendeknya pun tak satu macam. Pilih yang romantis atau malah ingin yang tragis, semua bisa dicoba. Aku rela menghampar sebagai rerumputan lembut, permadani yang menjagamu dari pepucuk duri, urai Kurnia Effendi. Terkutuklah kita/jikalau maung melayu/di sarungku di kerudungmu/tak terbaca hantu waktu/jadi gelang tak berlengan/jadi cincin tak berjari/ demikian sebagian jampi dari Marhalim Zaini. Sebab/kita hanya embun/yang sebentar lagi/akan sirna, kata Fitri Yani. Ada Jokpin yang bergaya bersama tiga puisi, salah satunya masih memakai “celana”. Celana yang mana? Entahlah. Yang pasti celanamu/pernah dipakai bermacam-macam orang, jawab Jokpin untuk pertanyaan yang berbeda.  

Minat kepada nuansa kemanusiaan atau ketuhanan, semua dapat dirasa. Keremangan yang dinyalakan, tentu tidak sama. Ada yang terang benderang. Ada pula yang agaknya bergelap-gelap. Banyak yang semacam ratusan neon jalanan. Ada juga yang mungkin setingkat kunang-kunang di balik semak. Tapi tentu, para puisi sama-sama berhak menjadi cahaya prismatis yang istimewa, bagi berjenis-jenis ruang jiwa.  

Selain puisi siap saji, buku ini juga menghidangkan semacam resep dan “catatan kaki” perihal puisi. Wacanakata dari Arif Bagus Prasetyo menyebut istilah “metapuisi” (puisi tentang puisi). Tak kurang dari 6 puisi (karya Frans Nadjira, Warih Wisatsana, Ook Nugroho, Hasan Aspahani, dan TS Pinang) yang dapat dicontohkan. Dengan demikian, buku ini tampak cocok bagi kalangan pendidikan. Sebab para metapuisi itu, dapat menjelma jadi teropong sederhana untuk melihat-lihat pemandangan puisi mutakhir di luar sana. Selain itu, tepat pula bagi para pembelajar penulisan puisi, sebab dapat menjadi pemandu sekaligus penandu yang mengusung inspirasi. Singkat kata, andai kebosanan yang dicari, tampaknya ia sukar untuk ditemui di buku kumpulan puisi ini.

Semangat untuk “bersama-sama menyelamatkan sastra” (hal. xiii), juga terlontar lugas, sedayung selaju dengan biduk puisi yang konon kini ditengarai, sedang berwarna cat muram-nelangsa. Kendati begitu, dialog imajiner gubahan Hasan Aspahani (Blog Sejuta Puisi, 2007) barangkali akan terasa berguna, yaitu bahwa “puisi telah kehilangan banyak kepercayaan pembacanya” (Goenawan Mohamad), mungkin karena sebetulnya “ketidakpedulian masyarakat pada kesusastraan, berpangkal pada kurang adanya keyakinan akan manfaat kerja dan hasil budaya itu” (Subagio Sastrowardoyo).  

Bagaimanapun, bagi semua yang gemar terusik oleh rasa penasaran dan tertarik dengan “puisi Indonesia terbaik” versi Budi Darma, Joko Pinurbo, Linda Christanty, Putu Wijaya, Sapardi Djoko Damono, Sitok Srengenge, dan Sutardji Calzoum Bachri; buku ini bisa menjadi bukti (sekaligus pertaruhan?) reputasi mereka (dewan juri, para tokoh sastra itu), dalam mengumpulkan lembar-lembar terpilih bercita faedah dan berasa indah, kepada khalayak penikmat sajak.


Lebih hemat belanja buku di Kutukutubuku.com. Copy kode kupon K1-A46B4D-X dan masukkan setiap bertransaksi.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://zakif.blogsome.com/2009/05/20/citarasa-puisi-tahun-ini/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com