sehantar coretan tentang lembar-lembar terbitan


Hikmah Bersaling di Dunia Daring

Facebook, Bango, dan Linux (Eko Budhi Suprasetiawan)Internetlah jendala dunia. Melalui internet, seseorang bebas membuka “jendela” peramban (browser), mengetikkan alamat tujuan; lantas tersuguhkanlah kepadanya bermacam panorama, tergelarlah pengetahuan yang barangkali belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Memang betul, era satu-arah itu sudah lama berlalu. Sekarang, siapapun di hadapan layar piranti masing-masing, sudah bukan lagi sekadar menjadi penikmat atau penonton pasif yang cuma diam bergeming. Justru sebaliknya, mereka (para pengguna internet) kini dapat serta-merta (tanpa susah-payah) menjadi pelukis panorama apa saja yang disuka, baik itu berupa kata, gambar, dan suara.

Boleh dibilang, mungkin internet seolah sudah makin mantap menawarkan karakter fitrahnya tersendiri. Di tangan setiap pengguna akhir (end user), internet itu—selain serupa buku yang sesak dengan banyak tema panorama, tapi—di sisi sebaliknya, juga menjelma ibarat buku putih yang bersedia ditulisi-dilukisi apa saja.

Blogger anti tirani, ditangkapi oleh pemerintah Mesir. Obama bisa menang, juga ditunjang oleh kenyataan bahwa di dunia daring (online, dalam jaringan), dialah kandidat pemimpin yang paling hadir. Buku-el ‘e-book’  “Facebook, Bango, dan Linux” (FBL) menggarisbawahi kemampuan targetted, bottom-up dan collaborative dari perkembangan new media ini. Inilah barangkali yang dalam lingkup lebih luas, terlanjur dikenali sebagai ciri era partisipasi, era kolaborasi; sebuah era di mana orang sangat terleluasakan untuk bersaling secara positif: saling bantu, saling dukung, saling berbagi, saling terkoneksi, saling mengisi, saling mengapresiasi, dan seterusnya.

Tapi, FBL sendiri, tergolong “susah” untuk dikategorisasi. Mungkin penyebabnya adalah karena FBL ini berisi gabungan tetulisan; mulai dari refleksi atas realita sosial terkini, kutipan ayat-ayat dan sirah sahabat, perkembangan teknologi informasi, kutipan warta-warta pengabdian masyarakat, hingga pertanyaan-pertanyaan evaluasi. Kalaulah FBL seumpama nasyid, mungkin albumnya akan semacam kompilasi antara Izzis, ShouHar, Ar-Ruhul Jadid, Mupla, SP, Snada, JV, Edcoustic, Raihan dan The Fikr.

Barangkali, semakna dengan istilah “biodiversity” yang tercantum di salah satu paragrafnya, buku-el ini sudah pula lebih dulu membuktikan diri sebagai sebuah “bibliodiversity” (kalau boleh disebut demikian). Bukan sebatas gara-gara beragamnya referensi, tapi juga karena kupasan lintas bidang. Sehingga, dalam porsinya tersendiri, buku-el ini dapat memperkaya sudut pandang. Terlebih lagi, sebagai buku, FBL dinyatakan merupakan keluaran (ataukah proses?) dari sebuah proyek riset (pengamatan) (hal. 4).

Latar belakang dan kiprah penulisnya, membuat hal-hal tadi menjadi wajar saja. Bahkan kalau ditelusur ulang, tema pokok yang ditawarkan FBL bisa dibaca sebagai peng(k)ristalan ide dan aksi “lama”, tentu, masih dari penulis yang sama.

Pengulasan istilah TEAMWORK, misalnya, pernah termuat dalam presentasi Pusat Kesiapan Perang Informasi (PKPI). Dalam arsip MIFTA itu, konsep TEAMWORK dikemas dengan tajuk “Budaya Virtual”. Jika diperbandingkan, baik FBL maupun PKPI, terasa tampil dengan semangat gerak yang tak jauh beda. Keduanya pun sama-sama bernuansa rancangan strategi.

Bagi khalayak pembaca, mungkin pertanyaan mendasarnya adalah: apa problematika spesifik yang hendak diselesaikan oleh—tawaran solusi dalam—FBL ini? Bila dalam PKPI terdapat senarai masalah dalam bagian awal presentasi; maka nampaknya dalam FBL ini, karakter fitrah internet (dunia maya) itu coba diisi dengan pemaknaan ulang atas solusi bagi masalah-masalah di dunia nyata (melampaui segala macam virtualita).

Pemaknaan ulang tadi itu, sekilas mengesankan adanya obsesi untuk mengintegrasi faktor-faktor terkait, lalu berujung pada kehendak agar pemanfaatan internet tidak berhenti menjadi ekspresi identitas pribadi belaka, tapi bergerak menjadi “sesuatu” yang bernuansa “ummah”.

Karena itu, senafas dengan semboyan “there is no I in a TEAM,” buku-el ini juga terlihat bersungguh-sungguh mengingatkan pembacanya, perihal peluang kontribusi berskala individu, keluarga, komunitas; serta tak lupa menyediakan penanda jalan ke arah kemungkinan kolaborasi antar mereka.

***

Karena masih dalam tahap penyelesaian, ada beberapa catatan yang berhak dialamatkan kepada buku-el yang menurut penuturan penulisnya, dirampungkan selama satu pekan saja.

Pertama, kosakata. Untuk menjangkau pembaca yang lebih banyak (namun tetap dalam ceruk yang sama), mungkin perlu ditambahkan penjelasan ringkas atas kosakata yang sekiranya kurang dapat dipahami dengan segera.

Misalnya, untuk beberapa kata kunci seperti ukhuwah, izzah, dan rahmah. Istilah “jejaring sosial” pun sepertinya dimaknai lebih dari sekadar “social networking” sebagai situs pertemanan. Tentu perlu ada penegasan atas perluasan tentang apa yang dimaksud jejaring sosial itu.

Masih soal kosakata, dua kata tunjuk “itu” dalam perkataan gadis kecil “Itu akan membuat makna berbeda untuk yang itu,” mungkin dapat disunting sehingga lebih jelas maksudnya. Termasuk juga penyuntingan kata “merubah” (mestinya jadi mengubah), penerjemahan kata asing, dan sebagainya.

Kedua, kosagambar. Karena banyak sekali konsep-konsep, maka penambahan gambar, grafik atau diagram ilustrasi, mungkin akan semakin mempermudah pembaca dalam memahami isi bukunya. Sebagai misal, apakah konsep-konsep yang sedari awal disebut sebagai “reaksi berantai” itu bisa divisualkan ke dalam bentuk siklus, rangkaian paralel, rangkaian seri, timeline, himpunan semesta-himpunan bagian, tahapan semacam anak tangga, ataukah sebatas poin-poin yang cukup cocok bila dideretkan dalam bentuk daftar (list).

Sesuai judulnya, FBL memakai tiga contoh kasus: Facebook, Bango, dan Linux. Ketiga contoh tadi, rupanya untuk mewakilkan 3 unsur: Manusia, Komunitas, dan Teknologi (MKT). Dari sini, bisa muncul pertanyaan, bagaimanakah sebenarnya hubungan intra-elemen dalam MKT? Bagaimana ilustrasi hubungkait MKT dengan TEAMWORK? Bagaimana pula posisi TEAMWORK dalam kerangka Ukhuwah, Izzah, dan Rahmah? Perlu juga ada ilustrasi secukupnya tentang bagaimana relasi antara kanibalisme, konsumerisme, dan selebritas, serta antara kolaborasi, keberlanjutan, dan spesialisasi (ataukah keenamnya hanya berkorespondensi satu-satu seperti diurai dalam bab “Ukhuwah, Izzah, dan Rahmah”?).

Selanjutnya, bukan tak mungkin, akan makin tergali lagi, alasan-alasan apa yang mendasari terkelompokkaannya bidang-bidang tertentu ke dalam ukhuwah, izzah, dan rahmah. Mengapa misalnya, pendidikan dimasukkan ke dalam area “ukhuwah” bukannya “izzah”, dan seterusnya termasuk untuk 8 sektor keumatan lainnya.

Masih perihal kosagambar, bisa juga dalam setiap bagian yang mengulas elemen-elemen TEAMWORK (mulai dari T[rust] sampai K[nowledge]), turut disertai dengan ilustrasi kecil semacam You’re here now (seperti dalam denah bangunan di penjuru gedung). Ini dapat bermanfaat bagi pembaca, sehingga tetap fokus menyerap ide TEAMWORK secara utuh.

Ketiga, kosacara. Ketika mengajukan tauhid sebagai cara masuk membangun Trust (T dalam TEAMWORK), dapat dipertimbangkan pula misalnya, di manakah letak konsepsi Tauhid Asma wa Sifat. Selazimnya diketahui, konsepsi jenis ini juga dipahami oleh banyak elemen umat Islam (termasuk di dunia daring), alih-alih Tauhid Mulkiyah.

Lalu, seperti disebut di atas, ada nuansa rancangan strategi yang kental dalam buku ini. Dengan begitu, jika pertanyaan bahan diskusi itu sudah memperoleh jawaban-jawabannya, maka layak pula FBL menyediakan skenario-skenario lanjutan yang bisa ditelaah lagi atau bahkan dieksekusi.

Keempat, kosacerita. Agaknya diperlukan deskripsi yang lebih memadai, tentang bagaimana detail seputar “topeng HAMMAS”, riwayat situs Facebook, kecap Bango, Linux, CreativeCommons, SourceForge, WordPress, Masjid 741, MIF, santri3in1 dlsb..

Tidakkah juga, misalnya, memasukkan istilah FOSS (Free and Open Source Software), bukannya Linux, ini mengingat contoh yang dikemukakannya ialah lisensi CreativeCommons (beda dengan GPL?) dan situs respository SourceForge.net. Kecuali mungkin, FBL sengaja memaknai linux sebagai semangat dengan l kecil (bukan sebagai merek Linux dengan l besar), sebagaimana juga untuk facebook dan bango(?).

Kelima, sistematika. Seperti regu Pramuka yang bersiap melakukan penjelajahan, maka pembaca buku non-fiksi juga lazimnya berharap untuk di-briefing sejak awal, perihal bagaimanakah medan jelajah yang akan ditempuh. Medan yang dimaksud tentulah buku-el FBL ini sendiri. Briefing awal itu bisa menyangkut: terdiri dari berapa bab dan bagiankah buku-el ini; di setiap bagian itu, akan ada apa sajakah; maksud-maksud apa saja yang ingin diraih dari pembagian dan komposisi isi semacam itu; dan seterusnya.

Saat medan tadi sudah berhasil dikenali dan dilalui, tentu makin mudah pula bagi pembaca untuk merujuk FBL sebagai “pemandu jalan” dalam berkesadaran menjawab pertanyaan-pertanyaan evaluasi dan meneruskannya sebagai langkah-langkah praktis-strategis di dunia nyata.

Akhirnya, sebagai simpulan sementara, sambil menimbang lagi uraian di atas, sepertinya FBL cocok ditujukan bagi pegiat komunitas, ormas, orpol, dan lsm keumatan serta individu muslim yang berminat besar terhadap pemanfaatan teknologi informasi sebagai sarana mewujudkan misi khayru ummah. “TEAMWORK sebagai Budaya Virtual; Meracik 9 Strategi Sektoral Keumatan dari Pengalaman Facebook, Bango, dan Linux” dapat dipertimbangkan sebagai pilihan judul yang panjang panjang. Atau cukup: “Confirm. TEAMWORK Rasa Muslim.” Wallaahu a’lam.


Lebih hemat belanja buku di Kutukutubuku.com. Copy kode kupon K1-A46B4D-X dan masukkan setiap bertransaksi.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://zakif.blogsome.com/2009/06/26/hikmah-bersaling-di-dunia-daring/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com