<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>sehantar coretan tentang lembar-lembar terbitan</title>
	<link>http://zakif.blogsome.com</link>
	<description>oleh zaki f</description>
	<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 15:08:42 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Hikmah Bersaling di Dunia Daring</title>
		<link>http://zakif.blogsome.com/2009/06/26/hikmah-bersaling-di-dunia-daring/</link>
		<comments>http://zakif.blogsome.com/2009/06/26/hikmah-bersaling-di-dunia-daring/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 14:43:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zakif</dc:creator>
		
	<category>Motivasi &#038; Pengembangan Diri</category>
	<category>Antologi Esai</category>
	<category>Strategi</category>
		<guid>http://zakif.blogsome.com/2009/06/26/hikmah-bersaling-di-dunia-daring/</guid>
		<description><![CDATA[	Internetlah jendala dunia. Melalui internet, seseorang bebas membuka &ldquo;jendela&rdquo; peramban (browser), mengetikkan alamat tujuan; lantas tersuguhkanlah kepadanya bermacam panorama, tergelarlah pengetahuan yang barangkali belum pernah ia bayangkan sebelumnya.     
	Memang betul, era satu-arah itu sudah lama berlalu. Sekarang, siapapun di hadapan layar piranti masing-masing, sudah bukan lagi sekadar menjadi penikmat atau penonton [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="left"><a href="http://zakif.blogsome.com/go.php?u=http%3A%2F%2Fzakif.blogsome.com%2Fwp-admin%2Fimages%2FFacebook_Bango_dan_Linux.png&amp;i=0&amp;c=4418562accc30197e0605755f1404601d3e3d02c"><img width="138" height="200" border="0" title="Facebook, Bango, dan Linux (Eko Budhi Suprasetiawan)" alt="Facebook, Bango, dan Linux (Eko Budhi Suprasetiawan)" src="http://zakif.blogsome.com/wp-admin/images/thumb-Facebook_Bango_dan_Linux.png" /></a>Internetlah jendala dunia. Melalui internet, seseorang bebas membuka &ldquo;jendela&rdquo; peramban (<em>browser</em>), mengetikkan alamat tujuan; lantas tersuguhkanlah kepadanya bermacam panorama, tergelarlah pengetahuan yang barangkali belum pernah ia bayangkan sebelumnya.     </div>
	<p>Memang betul, era satu-arah itu sudah lama berlalu. Sekarang, siapapun di hadapan layar piranti masing-masing, sudah bukan lagi sekadar menjadi penikmat atau penonton pasif yang cuma diam bergeming. Justru sebaliknya, mereka (para pengguna internet) kini dapat serta-merta (tanpa susah-payah) menjadi pelukis panorama apa saja yang disuka, baik itu berupa kata, gambar, dan suara. </p>
	<p><a id="more-16"></a>     Boleh dibilang, mungkin internet seolah sudah makin mantap menawarkan karakter fitrahnya tersendiri. Di tangan setiap pengguna akhir (<em>end user</em>), internet itu&mdash;selain serupa buku yang sesak dengan banyak tema panorama, tapi&mdash;di sisi sebaliknya, juga menjelma ibarat buku putih yang bersedia ditulisi-dilukisi apa saja. </p>
	<p>     Blogger anti tirani, ditangkapi oleh pemerintah Mesir. Obama bisa menang, juga ditunjang oleh kenyataan bahwa di dunia daring (<em>online</em>, dalam jaringan), dialah kandidat pemimpin yang paling hadir. Buku-el &#8216;e-book&#8217;&nbsp; &ldquo;Facebook, Bango, dan Linux&rdquo; (FBL) menggarisbawahi kemampuan <em>targetted</em>, <em>bottom-up</em> dan <em>collaborative</em> dari perkembangan <em>new media</em> ini. Inilah barangkali yang dalam lingkup lebih luas, terlanjur dikenali sebagai ciri era partisipasi, era kolaborasi; sebuah era di mana orang sangat terleluasakan untuk bersaling secara positif: saling bantu, saling dukung, saling berbagi, saling terkoneksi, saling mengisi, saling mengapresiasi, dan seterusnya.</p>
	<p>     Tapi, FBL sendiri, tergolong &ldquo;susah&rdquo; untuk dikategorisasi. Mungkin penyebabnya adalah karena FBL ini berisi gabungan tetulisan; mulai dari refleksi atas realita sosial terkini, kutipan ayat-ayat dan sirah sahabat, perkembangan teknologi informasi, kutipan warta-warta pengabdian masyarakat, hingga pertanyaan-pertanyaan evaluasi. Kalaulah FBL seumpama nasyid, mungkin albumnya akan semacam kompilasi antara Izzis, ShouHar, Ar-Ruhul Jadid, Mupla, SP, Snada, JV, Edcoustic, Raihan dan The Fikr.</p>
	<p>     Barangkali, semakna dengan istilah &ldquo;<em>biodiversity</em>&rdquo; yang tercantum di salah satu paragrafnya, buku-el ini sudah pula lebih dulu membuktikan diri sebagai sebuah &ldquo;<em>bibliodiversity</em>&rdquo; (kalau boleh disebut demikian). Bukan sebatas gara-gara beragamnya referensi, tapi juga karena kupasan lintas bidang. Sehingga, dalam porsinya tersendiri, buku-el ini dapat memperkaya sudut pandang. Terlebih lagi, sebagai buku, FBL dinyatakan merupakan keluaran (ataukah proses?) dari sebuah proyek riset (pengamatan) (hal. 4).</p>
	<p>     Latar belakang dan kiprah penulisnya, membuat hal-hal tadi menjadi wajar saja. Bahkan kalau ditelusur ulang, tema pokok yang ditawarkan FBL bisa dibaca sebagai peng(k)ristalan ide dan aksi &ldquo;lama&rdquo;, tentu, masih dari penulis yang sama. </p>
	<p>     Pengulasan istilah TEAMWORK, misalnya, pernah termuat dalam presentasi Pusat Kesiapan Perang Informasi (PKPI). Dalam arsip MIFTA itu, konsep TEAMWORK dikemas dengan tajuk &ldquo;Budaya Virtual&rdquo;. Jika diperbandingkan, baik FBL maupun PKPI, terasa tampil dengan semangat gerak yang tak jauh beda. Keduanya pun sama-sama bernuansa rancangan strategi. </p>
	<p>     Bagi khalayak pembaca, mungkin pertanyaan mendasarnya adalah: apa problematika spesifik yang hendak diselesaikan oleh&mdash;tawaran solusi dalam&mdash;FBL ini? Bila dalam PKPI terdapat senarai masalah dalam bagian awal presentasi; maka nampaknya dalam FBL ini, karakter fitrah internet (dunia maya) itu coba diisi dengan pemaknaan ulang atas solusi bagi masalah-masalah di dunia nyata (melampaui segala macam virtualita). </p>
	<p>     Pemaknaan ulang tadi itu, sekilas mengesankan adanya obsesi untuk mengintegrasi faktor-faktor terkait, lalu berujung pada kehendak agar pemanfaatan internet tidak berhenti menjadi ekspresi identitas pribadi belaka, tapi bergerak menjadi &ldquo;sesuatu&rdquo; yang bernuansa &ldquo;ummah&rdquo;. </p>
	<p>     Karena itu, senafas dengan semboyan &ldquo;<em>there is no I in a TEAM</em>,&rdquo; buku-el ini juga terlihat bersungguh-sungguh mengingatkan pembacanya, perihal peluang kontribusi berskala individu, keluarga, komunitas; serta tak lupa menyediakan penanda jalan ke arah kemungkinan kolaborasi antar mereka. </p>
	<p>     ***</p>
	<p>     Karena masih dalam tahap penyelesaian, ada beberapa catatan yang berhak dialamatkan kepada buku-el yang menurut penuturan penulisnya, dirampungkan selama satu pekan saja.</p>
	<p>     Pertama, <em>kosakata</em>. Untuk menjangkau pembaca yang lebih banyak (namun tetap dalam ceruk yang sama), mungkin perlu ditambahkan penjelasan ringkas atas kosakata yang sekiranya kurang dapat dipahami dengan segera. </p>
	<p>     Misalnya, untuk beberapa kata kunci seperti ukhuwah, izzah, dan rahmah. Istilah &ldquo;jejaring sosial&rdquo; pun sepertinya dimaknai lebih dari sekadar &ldquo;<em>social networking</em>&rdquo; sebagai situs pertemanan. Tentu perlu ada penegasan atas perluasan tentang apa yang dimaksud jejaring sosial itu.</p>
	<p>     Masih soal kosakata, dua kata tunjuk &ldquo;itu&rdquo; dalam perkataan gadis kecil &ldquo;Itu akan membuat makna berbeda untuk yang itu,&rdquo; mungkin dapat disunting sehingga lebih jelas maksudnya. Termasuk juga penyuntingan kata &ldquo;merubah&rdquo; (mestinya jadi mengubah), penerjemahan kata asing, dan sebagainya.</p>
	<p>     Kedua, <em>kosagambar</em>. Karena banyak sekali konsep-konsep, maka penambahan gambar, grafik atau diagram ilustrasi, mungkin akan semakin mempermudah pembaca dalam memahami isi bukunya. Sebagai misal, apakah konsep-konsep yang sedari awal disebut sebagai &ldquo;reaksi berantai&rdquo; itu bisa divisualkan ke dalam bentuk siklus, rangkaian paralel, rangkaian seri, timeline, himpunan semesta-himpunan bagian, tahapan semacam anak tangga, ataukah sebatas poin-poin yang cukup cocok bila dideretkan dalam bentuk daftar (list). </p>
	<p>     Sesuai judulnya, FBL memakai tiga contoh kasus: Facebook, Bango, dan Linux. Ketiga contoh tadi, rupanya untuk mewakilkan 3 unsur: Manusia, Komunitas, dan Teknologi (MKT). Dari sini, bisa muncul pertanyaan, bagaimanakah sebenarnya hubungan intra-elemen dalam MKT? Bagaimana ilustrasi hubungkait MKT dengan TEAMWORK? Bagaimana pula posisi TEAMWORK dalam kerangka Ukhuwah, Izzah, dan Rahmah? Perlu juga ada ilustrasi secukupnya tentang bagaimana relasi antara <em>kanibalisme, konsumerisme, </em>dan <em>selebritas</em>, serta antara <em>kolaborasi, keberlanjutan, </em>dan<em> spesialisasi</em> (ataukah keenamnya hanya berkorespondensi satu-satu seperti diurai dalam bab &ldquo;Ukhuwah, Izzah, dan Rahmah&rdquo;?).</p>
	<p>     Selanjutnya, bukan tak mungkin, akan makin tergali lagi, alasan-alasan apa yang mendasari terkelompokkaannya bidang-bidang tertentu ke dalam ukhuwah, izzah, dan rahmah. Mengapa misalnya, pendidikan dimasukkan ke dalam area &ldquo;ukhuwah&rdquo; bukannya &ldquo;izzah&rdquo;, dan seterusnya termasuk untuk 8 sektor keumatan lainnya. </p>
	<p>     Masih perihal kosagambar, bisa juga dalam setiap bagian yang mengulas elemen-elemen TEAMWORK (mulai dari <em>T[rust]</em> sampai <em>K[nowledge]</em>), turut disertai dengan ilustrasi kecil semacam <em>You&rsquo;re here now</em> (seperti dalam denah bangunan di penjuru gedung). Ini dapat bermanfaat bagi pembaca, sehingga tetap fokus menyerap ide TEAMWORK secara utuh.</p>
	<p>     Ketiga, <em>kosacara</em>. Ketika mengajukan tauhid sebagai cara masuk membangun Trust (<em>T </em>dalam TEAMWORK), dapat dipertimbangkan pula misalnya, di manakah letak konsepsi <em>Tauhid Asma wa Sifat</em>. Selazimnya diketahui, konsepsi jenis ini juga dipahami oleh banyak elemen umat Islam (termasuk di dunia daring), alih-alih <em>Tauhid Mulkiyah</em>.</p>
	<p>Lalu, seperti disebut di atas, ada nuansa rancangan strategi yang kental dalam buku ini. Dengan begitu, jika pertanyaan bahan diskusi itu sudah memperoleh jawaban-jawabannya, maka layak pula FBL menyediakan skenario-skenario lanjutan yang bisa ditelaah lagi atau bahkan dieksekusi.</p>
	<p>     Keempat, <em>kosacerita</em>. Agaknya diperlukan deskripsi yang lebih memadai, tentang bagaimana detail seputar &ldquo;topeng HAMMAS&rdquo;, riwayat situs Facebook, kecap Bango, Linux, CreativeCommons, SourceForge, WordPress, Masjid 741, MIF, santri3in1 dlsb.. </p>
	<p>     Tidakkah juga, misalnya, memasukkan istilah FOSS (Free and Open Source Software), bukannya Linux, ini mengingat contoh yang dikemukakannya ialah lisensi CreativeCommons (beda dengan GPL?) dan situs respository SourceForge.net. Kecuali mungkin, FBL sengaja memaknai linux sebagai semangat dengan l kecil (bukan sebagai merek Linux dengan l besar), sebagaimana juga untuk facebook dan bango(?).</p>
	<p>     Kelima, <em>sistematika</em>. Seperti regu Pramuka yang bersiap melakukan penjelajahan, maka pembaca buku non-fiksi juga lazimnya berharap untuk di-<em>briefing</em> sejak awal, perihal bagaimanakah medan jelajah yang akan ditempuh. Medan yang dimaksud tentulah buku-el FBL ini sendiri. <em>Briefing</em> awal itu bisa menyangkut: terdiri dari berapa bab dan bagiankah buku-el ini; di setiap bagian itu, akan ada apa sajakah; maksud-maksud apa saja yang ingin diraih dari pembagian dan komposisi isi semacam itu; dan seterusnya. </p>
	<p>     Saat medan tadi sudah berhasil dikenali dan dilalui, tentu makin mudah pula bagi pembaca untuk merujuk FBL sebagai &ldquo;pemandu jalan&rdquo; dalam berkesadaran menjawab pertanyaan-pertanyaan evaluasi dan meneruskannya sebagai langkah-langkah praktis-strategis di dunia nyata.</p>
	<p>     Akhirnya, sebagai simpulan sementara, sambil menimbang lagi uraian di atas, sepertinya FBL cocok ditujukan bagi pegiat komunitas, ormas, orpol, dan lsm keumatan serta individu muslim yang berminat besar terhadap pemanfaatan teknologi informasi sebagai sarana mewujudkan misi khayru ummah. &ldquo;TEAMWORK sebagai Budaya Virtual; Meracik 9 Strategi Sektoral Keumatan dari Pengalaman Facebook, Bango, dan Linux&rdquo; dapat dipertimbangkan sebagai pilihan judul yang panjang panjang. Atau cukup: &ldquo;Confirm. TEAMWORK Rasa Muslim.&rdquo; Wallaahu a&#8217;lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zakif.blogsome.com/2009/06/26/hikmah-bersaling-di-dunia-daring/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Citarasa Puisi &#8220;Tahun Ini&#8221;</title>
		<link>http://zakif.blogsome.com/2009/05/20/citarasa-puisi-tahun-ini/</link>
		<comments>http://zakif.blogsome.com/2009/05/20/citarasa-puisi-tahun-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 13:38:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zakif</dc:creator>
		
	<category>Antologi Puisi</category>
		<guid>http://zakif.blogsome.com/2009/05/20/citarasa-puisi-tahun-ini/</guid>
		<description><![CDATA[	Membaca puisi, mungkin belum sepopuler membaca novel. Saat coba membaca puisi, seringkali malah susah dimengerti, lantas kadang bikin mangkel dan sebel. Kalau menyadur ungkapan Ikranegara, seperti dikutip penyair Ook Nugroho dalam blognya, baca-tulis puisi memang &ldquo;bukanlah urusan seringan angkat barbel&rdquo;. &nbsp;
	   Namun apakah tertutup peluang untuk masuk dan duduk di kafe puisi, lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><a href="http://zakif.blogsome.com/go.php?u=http%3A%2F%2Fzakif.blogsome.com%2Fwp-admin%2Fimages%2FJilid_Puisi_Indonesia_Terbaik_2009_01.jpeg&amp;i=0&amp;c=6bde848d68985b0e4655593924745cc77dfb7836"><img width="134" height="200" border="0" align="left" title="Puisi Indonesia Terbaik 2009" alt="Puisi Indonesia Terbaik 2009" src="http://zakif.blogsome.com/wp-admin/images/thumb-Jilid_Puisi_Indonesia_Terbaik_2009_01.jpeg" /></a>Membaca puisi, mungkin belum sepopuler membaca novel. Saat coba membaca puisi, seringkali malah susah dimengerti, lantas kadang bikin mangkel dan sebel. Kalau menyadur ungkapan Ikranegara, seperti dikutip penyair Ook Nugroho dalam blognya, baca-tulis puisi memang &ldquo;bukanlah urusan seringan angkat barbel&rdquo;. &nbsp;</p>
	<p>   Namun apakah tertutup peluang untuk masuk dan duduk di kafe puisi, lalu memesan menu pilihan yang sudah diseleksi oleh &ldquo;koki&rdquo; terkemuka, lantas mencicip barang sekecap dua kecap? Tentu tidak. Anggaplah saja, kafe puisi tak kenal waktu tutup dan buka. Maka kapanpun, siapapun, dapat bersama menjadi pelanggan setia, demi menyantap &ldquo;sesuatu&rdquo; yang diduga bisa menyedia keindahan, makna, atau syukur-syukur, keduanya. <br /> <a id="more-15"></a>    <br />   Buku antologi puisi berlabel &ldquo;Anugerah Sastra Pena Kencana&rdquo; ini, mengoleksi &ldquo;puisi terbaik&rdquo; dari &ldquo;puisi di koran&rdquo; terbitan 1 November 2007 hingga 31 Oktober 2008. Karena itu, meski dalam judulnya tertulis 2009, 11 puisi justru berasal dari koran terbitan tahun 2007, dan sisanya (sebanyak 49 puisi) dari tahun 2008. &nbsp;</p>
	<p>   Urusan angka, memang banyak yang terlibat: ada 60 karya, (dari) 12 koran, (kreasi) 34 penyair, dan (hasil seleksi) 7 orang juri. Kesemuanya tadi, bisa ditemukan dalam buku yang juga akan berbagi total uang sebesar 50 juta rupiah (lewat sms berhadiah) untuk tiga orang pembaca. Para penyairnya sendiri, sudah beroleh tigaperempat juta rupiah untuk setiap judul termuat. &nbsp;</p>
	<p>   Perihal angka tadi, mungkin berkait erat dengan prakata yang memuat blak-blakan tentang bagaimana sastrawan sebagai &ldquo;sosok bermartabat&rdquo;. Bukan sekadar sosok, melainkan ia yang &ldquo;mendapatkan penghargaan besar&rdquo; dan karyanya &ldquo;menggaet pasar&rdquo;. Dengan demikian, angka-angka itu memang punya tujuan. </p>
	<p>   Beragam &ldquo;aliran puisi&rdquo; ternampan di buku ini. Panjang dan pendeknya pun tak satu macam. Pilih yang romantis atau malah ingin yang tragis, semua bisa dicoba. <em>Aku rela menghampar sebagai rerumputan lembut, permadani yang menjagamu dari pepucuk duri</em>, urai Kurnia Effendi. <em>Terkutuklah kita/jikalau maung melayu/di sarungku di kerudungmu/tak terbaca hantu waktu/jadi gelang tak berlengan/jadi cincin tak berjari/ </em>demikian sebagian jampi dari Marhalim Zaini. <em>Sebab/kita hanya embun/yang sebentar lagi/akan sirna</em>, kata Fitri Yani. Ada Jokpin yang bergaya bersama tiga puisi, salah satunya masih memakai &ldquo;celana&rdquo;. Celana yang mana? Entahlah. Yang pasti celanamu/pernah dipakai bermacam-macam orang, jawab Jokpin untuk pertanyaan yang berbeda. &nbsp;</p>
	<p>   Minat kepada nuansa kemanusiaan atau ketuhanan, semua dapat dirasa. Keremangan yang dinyalakan, tentu tidak sama. Ada yang terang benderang. Ada pula yang agaknya bergelap-gelap. Banyak yang semacam ratusan neon jalanan. Ada juga yang mungkin setingkat kunang-kunang di balik semak. Tapi tentu, para puisi sama-sama berhak menjadi cahaya prismatis yang istimewa, bagi berjenis-jenis ruang jiwa. &nbsp;</p>
	<p>   Selain puisi siap saji, buku ini juga menghidangkan semacam resep dan &ldquo;catatan kaki&rdquo; perihal puisi. Wacanakata dari Arif Bagus Prasetyo menyebut istilah &ldquo;metapuisi&rdquo; (puisi tentang puisi). Tak kurang dari 6 puisi (karya Frans Nadjira, Warih Wisatsana, Ook Nugroho, Hasan Aspahani, dan TS Pinang) yang dapat dicontohkan. Dengan demikian, buku ini tampak cocok bagi kalangan pendidikan. Sebab para metapuisi itu, dapat menjelma jadi teropong sederhana untuk melihat-lihat pemandangan puisi mutakhir di luar sana. Selain itu, tepat pula bagi para pembelajar penulisan puisi, sebab dapat menjadi pemandu sekaligus penandu yang mengusung inspirasi. Singkat kata, andai kebosanan yang dicari, tampaknya ia sukar untuk ditemui di buku kumpulan puisi ini. </p>
	<p>   Semangat untuk &ldquo;bersama-sama menyelamatkan sastra&rdquo; (hal. xiii), juga terlontar lugas, sedayung selaju dengan biduk puisi yang konon kini ditengarai, sedang berwarna cat muram-nelangsa. Kendati begitu, dialog imajiner gubahan Hasan Aspahani (Blog Sejuta Puisi, 2007) barangkali akan terasa berguna, yaitu bahwa <em>&ldquo;puisi telah kehilangan banyak kepercayaan pembacanya&rdquo;</em> (Goenawan Mohamad), mungkin karena sebetulnya <em>&ldquo;ketidakpedulian masyarakat pada kesusastraan, berpangkal pada kurang adanya keyakinan akan manfaat kerja dan hasil budaya itu&rdquo;</em> (Subagio Sastrowardoyo). &nbsp;</p>
	<p>   Bagaimanapun, bagi semua yang gemar terusik oleh rasa penasaran dan tertarik dengan &ldquo;puisi Indonesia terbaik&rdquo; versi Budi Darma, Joko Pinurbo, Linda Christanty, Putu Wijaya, Sapardi Djoko Damono, Sitok Srengenge, dan Sutardji Calzoum Bachri; buku ini bisa menjadi bukti (sekaligus pertaruhan?) reputasi mereka (dewan juri, para tokoh sastra itu), dalam mengumpulkan lembar-lembar terpilih bercita faedah dan berasa indah, kepada khalayak penikmat sajak.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zakif.blogsome.com/2009/05/20/citarasa-puisi-tahun-ini/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Dari Saudagar Ide Segar</title>
		<link>http://zakif.blogsome.com/2009/02/19/belajar-dari-saudagar-ide-segar/</link>
		<comments>http://zakif.blogsome.com/2009/02/19/belajar-dari-saudagar-ide-segar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2009 09:18:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zakif</dc:creator>
		
	<category>Kewirausahaan</category>
		<guid>http://zakif.blogsome.com/2009/02/19/belajar-dari-saudagar-ide-segar/</guid>
		<description><![CDATA[	Industri kreatif menjadi istilah yang kian menarik diperbincangkan. Hitung-hitungan pemerintah dan perguruan tinggi membuahkan prediksi optmistik bahwa sektor kreatif memang menjanjikan kontribusi besar bagi kesejahteraan bangsa di masa depan.
	Di tengah luap harapan atas perkembangan industri kreatif itulah buku ini hadir seolah gayung bersambut, mewartakan kisah sukses salah satu penggelutnya, langsung dari tangan pertama. Lebih dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="left"><a href="http://zakif.blogsome.com/go.php?u=http%3A%2F%2Fzakif.blogsome.com%2Fwp-admin%2Fimages%2FJilid_Jualan_Ide_Segar_karya_M_Arief_Budiman.jpg&amp;i=0&amp;c=dfac2108dfcc682c0c376853d650a40f750194f2"><img src="http://zakif.blogsome.com/wp-admin/images/thumb-Jilid_Jualan_Ide_Segar_karya_M_Arief_Budiman.jpg" width="130" height="200" alt="" title="" border="0" /></a>Industri kreatif menjadi istilah yang kian menarik diperbincangkan. Hitung-hitungan pemerintah dan perguruan tinggi membuahkan prediksi optmistik bahwa sektor kreatif memang menjanjikan kontribusi besar bagi kesejahteraan bangsa di masa depan.</p>
	<p>Di tengah luap harapan atas perkembangan industri kreatif itulah buku ini hadir seolah gayung bersambut, mewartakan kisah sukses salah satu penggelutnya, langsung dari tangan pertama. Lebih dari sekadar curhat, Arief Budiman, wong Rembang sang penggelut tersebut (penulis buku ini), bahkan berbagi isi dapur perusahaan yang dipimpinnya, Petakumpet.<a id="more-7"></a></p>
	<p>Mulanya, Petakumpet adalah studio garapan komunitas mahasiswa Diskomvis (DKV/ Disain Komunikasi Visual) FSR ISI Yogyakarta angkatan &rsquo;94. Pesanan yang mencapai omset jutaan rupiah diladeni setiap bulannya. Setelah beberapa tahun, Petakumpet lalu bertransformasi menjadi perusahaan biro-iklan lokal profesional yang merambah kancah nasional.  Lantas omsetpun kini mencacah angka miliaran rupiah. Lusinan penghargaan berhasil digondol. Tapi mimpi belum berhenti, sebab seperti dituliskan beberapa kali, Petakumpet berhasrat besar untuk menjadi yang terbaik dalam lingkup global.</p>
	<p>Dari jilidnya, buku ini terlihat menghambur kata-kata bombastis. Tapi muatan di dalamnya nyata, bukan jenis &ldquo;sesat&rdquo; seperti genre buku &ldquo;kaya cara cepat&rdquo; yang mungkin kerap dianggap semu. Malah, liku-liku jatuh bangunnya sebuah contoh perusahaan yang melayani industri kreatif, ikut tertayang secara memadai. Maka selain curhat, &ldquo;Jualan Ide Segar&rdquo; bisa juga &ldquo;dicap&rdquo; sebagai sebuah company profile. Kesan yang wajar, karena memang penulisnya mengaku mempergunakan pendekatan case study dalam menulis buku berbonus CD senilai ratusan ribu rupiah ini.</p>
	<p>Sekalipun tentu, tetap saja citarasa penyampaian ala seniman begitu mudah dirasakan saat pembaca membuka halaman demi halaman. Walau terkesan acak dan meluap-luap, seketika itu juga pembaca dapat menikmati ada inspirasi dan optimisme yang terserap.</p>
	<p>Tak heran, sebab kendati berfokus pada bisnis &ldquo;biro iklan&rdquo;, penulis justru bertukar sapa pembuka kepada segenap keluarga-besar creativepreneurship. Hal tadi bisa dipahami, karena ternyata buku yang dipilahkan ke dalam enam bab ini, banyak berisi tawaran mindset, konsep dan gelontoran motivasi. Sehingga dapat tetap nyaman untuk dinikmati oleh kalangan non-biro iklan.</p>
	<p>Setelah mengawali kisah dengan kabar duka salah satu proyeknya, penulis langsung menawarkan definisinya tentang &ldquo;bisnis ide&rdquo;. Lalu dibahas juga tentang delapan alasan mengapa memilih bisnis ide. Beberapa wawancara dan liputan media turut disertakan dalam bagian-bagian pengantar ini.</p>
	<p>Selanjutnya penulis membedah isi dapur perusahannya. Apa yang disebut sebagai kejaiban, visi misi, pilar-pilar perusahaan, manajemen SDM, manajemen ide dan kreasi-kreasi lain dalam mengembangkan sebuah biro iklan, diungkap di bab ini. Barulah setelah itu, apa yang mungkin dipromokan dalam jilid sebagai &ldquo;tanpa modal&rdquo;, dikupas lebih jelas dalam bab Menggali Harta Karun Gratisan.</p>
	<p>Meskipun berada dalam posisi &ldquo;saudagar&rdquo;, penulis justru tak segan melontarkan kritik terhadap sudut-pandang &ldquo;melulu uang&rdquo;. Tak ketinggalan, turut disoroti pula bagaimana perkembangan industri kreatif di tengah masyarakat. Buku pun ditutup dengan epilog sukacita dan penegasan penulis akan mimpinya.<br />        Ditulis oleh peraih predikat mahasiswa teladan dan sarjana seni lulusan terbaik beryudisium cumlaude, bisa jadi membuat buku ini makin punya kredibilitas tersendiri bagi para pembacanya. Walapun penulisnya sendiri mengaku, tak pernah sekalipun menggunakan ijazah yang diperolehnya itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zakif.blogsome.com/2009/02/19/belajar-dari-saudagar-ide-segar/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>“Dihukum” di Rumah Kebahagiaan</title>
		<link>http://zakif.blogsome.com/2009/02/07/dihukum-di-rumah-kebahagiaan/</link>
		<comments>http://zakif.blogsome.com/2009/02/07/dihukum-di-rumah-kebahagiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 08:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zakif</dc:creator>
		
	<category>Motivasi &#038; Pengembangan Diri</category>
		<guid>http://zakif.blogsome.com/2009/02/07/dihukum-di-rumah-kebahagiaan/</guid>
		<description><![CDATA[	Sekali-sekali berpikir positif, tidak akan pernah mengubah hidup. Yang harus dilakukan adalah mengulang-ulang pikiran positif tersebut sebanyak dan sesering mungkin. Pikiran adalah segalanya. Pikiran untuk kebahagiaan adalah kesadaran yang selayaknya berhasil ditemukan. Sebab bukankah semua orang ingin bahagia. Tapi keanehan kadang terjadi dan membuat banyak orang bertanya-tanya, mengapa susah sekali untuk hidup bahagia. Padahal selain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="left"><a href="http://zakif.blogsome.com/go.php?u=http%3A%2F%2Fzakif.blogsome.com%2Fwp-admin%2Fimages%2FJilid_The_7_Laws_of_Happiness_karya_Arvan_Pradiansyah.jpeg&amp;i=0&amp;c=251ae298853ba266cdfd508ed7413234fe96105b"><img src="http://zakif.blogsome.com/wp-admin/images/thumb-Jilid_The_7_Laws_of_Happiness_karya_Arvan_Pradiansyah.jpeg" width="137" height="200" alt="" title="" border="0" /></a>Sekali-sekali berpikir positif, tidak akan pernah mengubah hidup. Yang harus dilakukan adalah mengulang-ulang pikiran positif tersebut sebanyak dan sesering mungkin. Pikiran adalah segalanya. Pikiran untuk kebahagiaan adalah kesadaran yang selayaknya berhasil ditemukan. Sebab bukankah semua orang ingin bahagia. Tapi keanehan kadang terjadi dan membuat banyak orang bertanya-tanya, mengapa susah sekali untuk hidup bahagia. Padahal selain kebahagiaan, apalagi yang dicari dalam hidup?</p>
	<p>Begitulah kira-kira Arvan Pradiansyah (pakar dan praktisi SDM) memberi senyum pembuka dalam buku terbarunya The 7 Laws of Happiness yang terbit menyusul karyanya terdahulu seperti You Are A Leader!, Life is Beautiful, dan Cherish Every Moment.<a id="more-13"></a></p>
	<p>Penulisnya menyebut, alih-alih buku teoritis, The 7 Laws ini justru buku yang sangat praktis mengenai kebahagiaan. Malah tujuh rahasia yang dibaginya, ditawarkan seumpama tujuh makanan bergizi yang mesti dipenuhi. Termasuk juga ada penjelasan khusus: mengapa tujuh? Apakah urutannya berpengaruh? Dan seterusnya, hingga nyaris semua jawaban terpaparkan bagi pembaca yang siap bertanya-tanya.</p>
	<p>Bahagia, menjadi kata-kunci yang dipahat, diukir, dan ditatah setahap demi setahap. Buku ini meyakinkan pembaca tentang kekuatan memilih pikiran (bukan hanya memilih tindakan) sebagai hal utama. Maka sedari awal, pembaca seakan sudah diserahi kunci bernama kebahagiaan. Lalu penulis yang lebih dulu dikenal lewat bahasan bertema manajemen dan leadership-nya itu, seolah mengajak pembaca memasuki sebuah rumah.</p>
	<p>Sembari berkisah banyak peristiwa dari contoh dunia nyata, pikiran-pikiran kebahagiaan pilahannya disusun satu demi satu. Terpilah menjadi tujuh, paparannya hadir secara renyah dan populer menyentuh fondasi dalam-diri, bangunan kokoh dalam menjalin hubungan dengan-orang-lain, serta atap pendekatan-kepada-Yang-Di-Atas. Dimulai dari sabar, syukur, dan sederhana (intrapersonal); kasih, memberi, dan memaafkan (interpersonal); hingga kepasrahan (spiritual).</p>
	<p>Tentu, semua tadi itu dibeberkan, setelah prinsip-prinsip dasar yang tak kalah kuat dan praktisnya, dijelaskan lebih dulu. Termasuk tawaran untuk memraktikkan dua teknik dalam mengelola pikiran: teknik mind booster dan teknik lima kotak.</p>
	<p>Tabel, diagram, dan kutipan secukupnya membuat konsep-konsep kian jelas. Penataan dan pengulangan fokus pada kalimat dan paragraf utama, bakal tambah memudahkan pembaca dalam menyerap saripati isi buku ini. Kejenuhan membaca, bisa jadi makin sukar menghampiri, sebab di sana-sini dihiasi latar dan gambar ilustrasi.</p>
	<p>&ldquo;Hukuman&rdquo; rahasia, sungguh-sungguh dapat ditimpakan buku ini kepada para penemu bahagia. Di rumah kebahagiaan, dengan doa kepasrahan, siapapun rindu untuk &ldquo;dihukum&rdquo; tanpa ampun. Meski terkesan sederhana, namun nyatanya rumit juga untuk &ldquo;divonis&rdquo; bahagia. Maka buku ini seperti berbagi solusi, jauh dari kerumitan, malah sebaliknya: mengasyikkan dan sederhana pula. &ldquo;Dalam hidup ini, segala sesuatu yang sederhana, bagaimanapun juga, adalah hal yang paling nyata,&rdquo; ulang Arvan mengutip Laura Ingalls Wilder.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zakif.blogsome.com/2009/02/07/dihukum-di-rumah-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
